LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Biaya sewa toko tinggi, industri ritel melemah di 2016

Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (DPP HIPPINDO) melaporkan raport merah untuk pertumbuhan industri ritel di tahun 2016. Hal ini disebabkan karena beban biaya sewa dan biaya service charge yang sangat tinggi saat ini.

2017-01-17 15:01:19
Bisnis Ritel dan Waralaba
Advertisement

Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (DPP HIPPINDO) melaporkan raport merah untuk pertumbuhan industri ritel di tahun 2016. Hal ini disebabkan karena beban biaya sewa dan biaya service charge yang sangat tinggi saat ini.

Ketua Umum DPP HIPPINDO Budihardjo Iduansjah, menjelaskan salah satu kontribusi biaya yang terbesar dan membebani peritel adalah kenaikan biaya service charge yang bisa mencapai 30 persen. Belum lagi beban biaya sewa yang bisa naik puluhan persen bahkan bisa Iebih dari 100 persen.

"Sewa dan service charge pusat belanja juga ada kontribusi kerena banyak yang menaikkan harga sewa sangat tinggi. Jangan dibebani lagi servis dll. Bila perlu dinaikkan maksimal inflasi maksimal 5 persen berat Tapi kalau lebih memberatkan," ujar Budihardjo di Jakarta, Selasa (17/1).

Advertisement

Menurutnya, biaya-biaya tersebut meningkat juga karena disebabkan oleh kenaikan UMP. Akibatnya, ritel pun akhirnya akan menaikkan harga jual ke konsumen, sehingga daya beli masyarakat menurun.

"Pada akhirnya peritel tidak mampu menutup biaya operasionalnya dan akan berakibat dengan penutupan toko dan PHK," ujarnya.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah memberikan perhatian mengenai hambatan di sektor ritel ini dengan segera menerbitkan aturan di Indonesia.

Advertisement

Seperti halnya di negara-negara lain yang telah menerapkan regulasi yang mengatur hubungan Pengelola Pusat Belanja dengan para tenantnya. Sehingga tercipta hubungan yang berimbang antara Pengelola Pusat Belanja dengan para tenantnya agar dapat bersinergi demi mendukung Perekonomian Nasional.

"Apabila industri ritel terpuruk maka akan mengganggu perekonomian nasional. Untuk Itu kami sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah," pungkasnya.

Baca juga:
Aprindo: Uang kembalian Alfamart disumbangkan ke yayasan kredibel
Imbas demo, Industri Ritel di Jakarta Pusat menurun 30 persen
Bidik pasar Indonesia Timur, pengusaha ritel bangun pusat distribusi
Pengusaha optimis industri ritel 2016 tumbuh 10 persen
Swalayan menjamur di Surabaya, DPRD kasih rapor merah Disperindagin
Mau cepat kaya, 5 bisnis ini bisa Anda jalankan di 2017
Starbucks tambah 12.000 gerai baru

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.