Biaya pelatihan membatik bisa sampai Rp 30 juta
"Yang bikin mahal itu bukan di cantingnya, itu hanya Rp 3.500-4.000, bahkan kain hanya Rp 40.000," ujar dia.
Pengrajin Batik asal Pekalongan, Mustar Sidiq mengatakan batik merupakan warisan budaya yang banyak digandrungi masyarakat lokal maupun mancanegara. Moncernya bisnis batik di Tanah Air membuat mereka yang jeli melihat peluang pelatihan batik di berbagai daerah.
Sayangnya, biaya pelatihan membatik masih terbilang mahal, yakni bisa mencapai Rp 30 juta untuk satu instruktur (pengajar). Hal ini sesuai dengan kesulitan dan ilmu yang diberikan oleh para instruktur.
"Yang bikin mahal itu bukan di cantingnya, itu hanya Rp 3.500-4.000, bahkan kain hanya Rp 40.000. Tapi yang bikin mahal itu proyek instruktur memberi pelatihan selama 5 hari bisa mencapai Rp 30 juta," ujar Sidiq di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (21/4).
Dia menambahkan, biasanya dalam satu daerah ada program dari pemerintah yang menyediakan pelatihan membatik kepada masyarakat. Pemerintah pun menganggarkan sebesar Rp 25-30 juta untuk 1 orang instruktur.
"Tapi pelatihan itu hanya satu minggu jadi setelah masyarakat belajar dari pelatihan itu pasti mereka mau belajar secara pribadi. Tapi para instruktur itu membandrol dengan harga yang sama, yaitu Rp 25-30 juta," kata dia.
Namun, jumlah instruktur batik di Indonesia masih tergolong rendah, yakni hanya mencapai ratusan hingga ribuan orang. Hal ini tentunya tidak sebanding dengan besarnya minat masyarakat untuk belajar batik.
"Instruktur batik itu cuma ratusan hingga ribuan orang. Bahkan, dari Pekalongan hingga Jogja saya hanya bertemu 70 orang. Bahkan saya sendiri sampai kualahan mengajar batik," pungkas dia.
(mdk/sau)