BI waspadai ketidakpastian ekonomi global, termasuk krisis Turki
Pertumbuhan ekonomi dunia masih tidak merata. Ekonomi AS diperkirakan tetap tumbuh kuat didukung akselerasi konsumsi dan investasi. Sementara itu, ekonomi Eropa, Jepang dan China masih cenderung menurun.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengakui ketidakpastian ekonomi global terus meningkat di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak merata. Ketidakpastian ekonomi global semakin tinggi dengan munculnya risiko rambatan dari gejolak ekonomi di Turki.
"Gejolak ekonomi Turki disebabkan oleh kerentanan ekonomi domestik, persepsi negatif terhadap kebijakan otoritas, serta meningkatnya ketegangan hubungan Turki dengan AS," kata Perry, di kantornya, Rabu (15/8).
Perry menegaskan, BI akan mewaspadai gejolak yang sedang terjadi di Turki dan faktor eksternal lainnya. "Termasuk kemungkinan dampak rambatan dari Turki, meskipun diyakini bahwa ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat didukung oleh indikator fundamental ekonomi yang sehat dan komitmen kebijakan yang kuat," ujarnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dunia masih tidak merata. Ekonomi AS diperkirakan tetap tumbuh kuat didukung akselerasi konsumsi dan investasi. Sementara itu, ekonomi Eropa, Jepang dan China masih cenderung menurun.
Dengan perkembangan tersebut, the Fed diperkirakan tetap melanjutkan rencana kenaikan Fed Fund Rate (FFR) secara gradual, sementara European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan ( BOJ) cenderung masih menahan kenaikan suku bunga.
"Di samping kenaikan suku bunga FFR, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dipicu oleh ketegangan perdagangan antara AS dan sejumlah negara, yang mendorong kebijakan balasan yang lebih luas, termasuk melalui pelemahan mata uang di tengah berlanjutnya penguatan dolar AS secara global."
Baca juga:
Bos BI: Rupiah melemah 7,04 persen, lebih rendah dibanding India, Brasil dan Rusia
Bank Indonesia Solo bakal gelar kampanye GPN besar-besaran
BI dukung pemerintah tunda pembangunan proyek infrastruktur
BI naikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,5 persen
Jaga stabilitas ekonomi, BI telah naikkan suku bunga hingga 4 kali
Rupiah terperosok ke level Rp 14.630 per USD, BI diprediksi bakal naikkan suku bunga