BI ingatkan pemerintah potensi penurunan ekspor awal tahun
BI juga yakin akan adanya perbaikan ekspor sejalan dengan perbaikan ekonomi dunia yang terjadi belakangan ini.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kegiatan ekspor di awal tahun ini. Terlebih, beberapa bulan terakhir neraca transaksi perdagangan mengalami defisit akibat melonjaknya ekspor non migas dibandingkan sektor migas lainnya.
"Awal tahun 2014 perlu waspada karena biasanya untuk ekspor komoditas batu bara, kelapa sawit masih dalam negosiasi kontrak mereka, jadi biasanya ada penurunan," ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (13/2).
Penerapan kebijakan Undang-Undang No.4 tahun 2009 yang isinya larangan ekspor mineral mentah diakui memberikan dampak signifikan.
"Ekspor mineral terjadi peningkatan bahwa kita memperhatikan peningkatan itu mungkin ada. Yang diantisipasi berlakunya Undang-Undang Minerba, jadi wajar," jelas dia.
BI juga yakin akan adanya perbaikan ekspor sejalan dengan perbaikan ekonomi dunia yang terjadi belakangan ini. "Perbaikan tersebut ditopang oleh perbaikan ekonomi dua negara maju yaitu Jepang dan Amerika Serikat," ungkapnya.
Perkiraan bank sentral, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2014 akan lebih baik jika dibandingkan tahun sebelumnya. "Kalau pertumbuhan tahun 2014 kajian BI bisa meningkat 3,6 persen dan 2015 meningkat 3,9 persen," tutup dia.
Baca juga:
Impor bahan baku produk fesyen Indonesia tembus Rp 67 triliun
Ekspor produk fesyen Indonesia 2013 capai Rp 132 triliun
Pengalaman di BKPM, Lutfi dipercaya mampu tingkatkan ekspor
Indonesia sulit lepas ketergantungan impor minyak dari Singapura
2013, nilai perdagangan Indonesia-AS tertinggi sepanjang sejarah