BI belum mampu tekan rasio utang luar negeri swasta
Rasio pembayaran utang swasta sempat mencapai 50 persen.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut otoritas makro ekonomi, kesulitan untuk menurunkan rasio pembayaran utang swasta (debt to service ratio/ DSR), untuk berada di 30 persen. Saat ini, DSR masih bertengger di 45 persen, bahkan sempat sampai 40 persen.
Tingginya, rasio pembayaran utang swasta lantaran adanya utang jangka pendek, terutama karena importasi minyak. Namun, saat ini risiko utang luar negeri telah mengalami penurunan.
Dia menjelaskan, penerapan risiko utang luar negeri bakal lebih pruden dengan penerapan hedging (lindung nilai), liquidity (likuiditas) dan mengenai kewajiban rating. Sehingga korporasi tidak sembarangan melakukan utang luar negeri.
"Manajemen risiko utang luar negeri, tentu saja akan berdampak pada penurunan utang luar negeri," kata Perry di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (31/10).
Dia berharap, dengan terjaganya utang luar negeri terutama swasta, akan berdampak positif pada perekonomian Indonesia. "Pertumbuhan ekonomi Amerika akan mendorong perbaikan ekspor dan perbaikan ekonomi di dalam negeri," terangnya.
(mdk/arr)