Beroperasi 12 tahun, daya angkut Transjakarta dinilai masih rendah
Dalam satu kali perjalanan, masih berkisar 3.400 penumpang per jam
Institute for transportation and Developmen Policy (ITDP) mencatat Transjakarta sudah beroperasi sepanjang 12 tahun terakhir. Namun, angkutan tersebut dinilai belum bisa menjadi tulang punggung sistem transportasi publik ibu kota negara.
Daya angkut Transjakarta masih berkisar 3.400 penumpang per jam dalam sekali perjalanan. Lebih rendah ketimbang angkutan sejenis di sejumlah kota dunia, semacam Istanbul (Turki) dan Guangzhou (China).
"Yang memiliki daya angkut hingga mencapai 27.000 penumpang per jam per arah," ujar Direktur ITDP Yoga Adiwinarto, Jakarta, Selasa (10/11).
Dia menambahkan, frekuensi Transjakarta juga masih rendah. Dalam satu arah, maksimal 40 bus per jam atau jika dirata-rata waktu kedatangan antar bus paling cepat sekitar 1,5 menit.
Sementara di kota dunia lainnya, frekuensi kedatangan mencapai 350 bus per jam per arah atau jeda kedatangan hanya 10 detik.
"Dari 2004 sampe 2015 operasional Transjakarta tidak mendukung untuk kapasitas tinggi. Frekuensi rendah itu indikasi dari kurangnya jumlah bus yang ada. Di koridor 1 headway-nya sudah hancur," katanya.
"Transjakarta harus tambah infrastruktur dan lajurnya. Estimasi kita itu Transjakarta bisa 1 juta penumpang per hari andai itu terpenuhi."
Baca juga:
LSM transportasi nilai pelayanan Transjakarta tak kunjung membaik
Transjakarta dikritik, daya angkut minim, headway juga terlalu lama
Cegah kecelakaan, Kemenhub bikin palang pintu kereta semiotomatis
Penutupan jalur perlintasan kereta Patal Senayan
Alasan Ridwan Kamil izinkan Bandros kembali beroperasi