LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Berencana Merger, Chevron dan ExxonMobil Bakal Cetak Sejarah

Kabar rencana merger atau penggabungan usaha tengah menerpa dua perusahaan minyak multinasional asal Amerika Serikat (AS) yakni Chevron dan ExxonMobil. Menyusul kian mesranya hubungan antar para petinggi dua perusahaan minyak ternama itu.

2021-02-02 10:34:36
akuisisi
Advertisement

Kabar rencana merger atau penggabungan usaha tengah menerpa dua perusahaan minyak multinasional asal Amerika Serikat (AS) yakni Chevron dan ExxonMobil. Menyusul kian mesranya hubungan antar para petinggi dua perusahaan minyak ternama itu.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (2/2), CEO ExxonMobil dan Chevron telah mengadakan pembicaraan awal pada awal 2020 untuk menjajaki penggabungan dua produsen minyak terbesar AS, menurut sumber terpercaya yang enggan disebutkan namanya itu.

Pembicaraan antara CEO Exxon, Darren Woods, dan CEO Chevron, Mike Wirth, cukup serius untuk menyusun dokumen hukum yang melibatkan aspek-aspek tertentu dari diskusi merger.

Advertisement

"Diskusi, yang berlangsung semacam itu dipandang telah menguji kepastian untuk pernikahan perusahaan besar setelah pandemi virus corona mengguncang dunia tahun lalu," paparnya.

Cetak Sejarah

Sumber anonim itu menambahkan, jika rencana tercapai, merger ini akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Menyusul nilai kapitalisasi kedua perusahaan tersebut terhitung amat besar.

Advertisement

Kapitalisasi pasar Chevron saat ini sebesar USD 164 miliar dan Exxon sebesar USD 189 miliar. Walhasil, nilai kapitalisasi pasar dari merger itu diprediksi bisa mencapai USD 350 miliar.

Tak hanya itu, melalui merger itu akan menjadikan mereka sebagai produsen minyak dan gas (migas) terbesar kedua di dunia setelah Saudi Aramco. Mengingat nilai pasar perusahaan minyak asal Arab Saudi saat ini mencapai USD 1,8 triliun.

Kendati demikian, rencana merger tersebut diprediksi menemui jalan terjal terkait soal regulasi dan isu lingkungan. Lantaran di bawah kepemimpinan Joe Biden, negeri Paman Sam baru saja kembali menyepakati kerjasama Perjanjian Iklim Paris.

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.