LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Batik tulis Cirebon seharga DP rumah ini laris manis di Jepang

Proses pembuatan batik ini memakan waktu 1 tahun.

2015-12-12 11:14:11
batik
Advertisement

Seni adalah sesuatu yang menciptakan hubungan emosional antara seniman dan audience, begitu diungkapkan Leo Tolstoy. Baginya seni adalah karya mahal yang patut dihargai karena ide brilian dan proses yang terjadi di dalamnya.

Ini juga berlaku bagi Ninik Masuni Masina, pengrajin batik asal Cirebon. Jangan kaget jika batik yang dihasilkannya dibanderol mahal. Batik tulis yang diproduksinya paling murah seharga Rp 50.000, tapi ada juga yang dijual seharga uang muka rumah KPR yakni Rp 30 juta.

Bukan tanpa alasan dia menjual batik semahal itu. Salah satunya karena proses pembuatan yang memakan waktu 1 tahun. batik itu dikerjakan 4 orang untuk 1 kain berukuran 2,65 meter x 1 meter dalam 1 motif.

Advertisement

"Yang bikin mahal adalah proses pengerjaannya. Bahannya tidak seberapa, hanya Rp 50.000 sampe Rp 140.000," ujarnya kepada wartawan saat ditemui di tokonya, Desa Trusmi, Plered, Cirebon, Jumat (11/12).

Dari setahun proses pembuatan batik tulis itu, 7 bulan untuk nembok/memblok warna dasar, 2 bulan untuk menggambar, 2,5 bulan untuk memberi motif dan 2 minggu proses pencucian.

Harga selangit justru membuat batik ini memiliki pesona sendiri. Ninik mengklaim peminat batik tulis ini masih sangat banyak. Dia menyebut, langganannya bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga dari negeri sakura. Bahkan, lebih banyak pemesan dari Kyoto, Jepang, daripada dari dalam negeri.

Advertisement

"Alhamdulillah setiap hari ada saja. Tidak pernah sepi, selalu ada terus pesenan untuk batik (harga Rp 30 juta) ini. Hampir 80 persen barang saya pesanan dari Kyoto, 20 persennya lokal," jelas dia.

Meski demikian, Ninik berharap konsumen dalam negeri juga memiliki minat tinggi terhadap batik dibanding negara lain. "Ya mudah-mudahan dalam negeri bisa lebih banyak pesenan, masa jadi luar negeri yang lebih banyak," ucapnya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.