LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Barang mewah hingga fesyen bermerek mulai terdampak anjloknya Rupiah

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyebut bahwa pelemahan Rupiah akan berdampak kepada para pelaku usaha ritel di Indonesia. Sebab, beberapa barang komoditas yang dijual pun masih didatangkan melalui impor.

2018-10-10 12:41:47
Rupiah
Advertisement

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini terus melemah hingga berada di atas level Rp 15.200-an per USD. Angka ini jauh melampaui target pemerintah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp 13.400 per USD.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyebut bahwa pelemahan Rupiah akan berdampak kepada para pelaku usaha ritel di Indonesia. Sebab, beberapa barang komoditas yang dijual pun masih didatangkan melalui impor.

"Sekarang kan (Dolar) sudah Rp 15.000 lebih, maka akan yang terkena (dampak) pertama itu adalah barang-barang impor," kata Roy saat dihubungi merdeka.com, Rabu (10/10).

Advertisement

Roy menyebut, ada beberapa jenis barang impor yang akan berdampak akibat melemahnya mata uang Garuda ini. Beberapa barang tersebut yakni yang sifatnya seperti produk barang mewah. Kemudian, beberapa barang yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri sehingga harus memutuskan untuk impor, serta barang yang bersifat branded fesyen.

"Paling tidak ketiga barang itu yang akan kena eskalasi harga terlebih dahulu," imbuhnya.

Meski demikian, kata dia, para pelaku usaha juga tidak serta merta langsung menaikan harga jual pada ketiga jenis produk tersebut. Terlebih, mereka akan mempertimbangkan dengan melihat ketersediaan stok barang yang ada.

Advertisement

"Tetapi ketika importir atau distributor pemasokan barang dengan harga Dolar yang sudah di atas Rp 15.000 ini, maka ketika stok habis itu sudah pasti eskalasi harga," ungkapnya.

"Eskalasi harga biasanya itu di atas presentasi kenaikan Dolar, dari Dolar yang sebelumnya dari yang sekarang ini. Jadi anggaplah Dolar ada kenaikan 15-20 persen maka kenaikan (produk) bisa di atas itu," tambahnya.

Roy menambahkan, sejauh ini secara tren penjualan sendiri masih tetap sama. Artinya tidak ada penurunan secara drastis dari konsumen. "Kalau sekarang memang katagori untuk produk tersier atau prodak impor itu lebih stagnan sifatnya maksudnya tidak bertumpu seperti produk yang lain. Karena bicara market jadi kalau orang yang memiliki dana atau sosial ekonominya status B Plus dan A itu biasanya tidak berpengaruh dengan harga. Walaupun ada kenaikan eskalasi harga orang-orang dengan status sosial ekonomi tinggi tidak berpengaruh mereka tetap akan berbelanja,"

Diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih melanjutkan pelemahan di perdagangan hari ini, Rabu (10/10). Sempat dibuka menguat, Rupiah kemudian kembali terperosok di level Rp 15.200-an per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah pagi ini dibuka di level Rp 15.213 per USD atau menguat tipis dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 15.237 per USD. Namun demikian, Rupiah langsung melemah usai pembukaan hingga menyentuh level Rp 15.227 per USD.

Baca juga:
Rupiah masih terperosok di level Rp 15.227 per USD
Rupiah melemah capai 15.000 per USD, PLN khawatir kembali rugi
Ini strategi pengusaha teknologi siasati pelemahan Rupiah
Soal harga nasi ayam, Tim Jokowi sebut Sandiaga menyesatkan dan hoaks
Kubu Prabowo: Hoaks digoreng demi alihkan kondisi ekonomi yang makin berat
Bank Indonesia yakinkan posisi Rupiah masih dalam batas fundamental

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.