Banyak Pemain Asing Baru, Bikin Over Kapasitas Produksi Semen di Indonesia
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Hendi Priyo Santoso mengakui banyaknya gempuran pemain baru asing membuat jumlah perusahaan semen di Indonesia terus bertambah. Di mana, dari sebelumnya hanya 7 perusahaan kini mencapai 19 perusahaan.
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Hendi Priyo Santoso mengakui banyaknya gempuran pemain baru asing membuat jumlah perusahaan semen di Indonesia terus bertambah. Di mana, dari sebelumnya hanya 7 perusahaan kini mencapai 19 perusahaan.
Dengan keadaan seperti itu justru membuat persaingan menjadi tidak sehat. Apalagi, banyaknya pemain baru itu membuat kapasitas produksi berlebih hingga mencapai 45 juta ton per tahunnya.
"Akibatnya kondisi over capacity yang berkepanjangan membuat Indonesia menjadi pasar yang ultra kompetitif dan konsumen semen di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara tetangga di regional maupun di Asia," terang dia di DPR RI, Jakarta, Selasa (18/2).
Untuk mengatasi persoalan kelebihan kapasitas ini, pihaknya mencari dukungan kepada pemerintah dengan merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2019 tentang ketentuan impor semen dan klinker oleh Kementerian Perdagangan.
"Kami meminta dukungan agar adanya revisi Permendag No.7/2019 tentang ketentuan impor semen mengingat adanya tantangan berupa kondisi over supply semen saat ini," tandas dia.
Semen Indonesia Tawarkan Teknologi Beton
Direktur Pemasaran & Supply Chain Semen Indonesia, Adi Munandir menyindir pihak yang masih masif mendatangkan aspal impor untuk keperluan pembangunan infrastruktur yang kini tengah digencarkan.
Seperti pada kebutuhan infrastruktur jalan, Adi mengatakan Indonesia masih harus impor aspal dengan porsi 71 persen dari total kebutuhan. Dengan demikian, hanya sebagian kecil saja kebutuhan aspal yang bisa dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.
"Bayangkan kita harus impor USD 421 juta di 2018. 56 persen dari konsumsi tersebut adalah untuk road maintenance, untuk perbaikan jalan," ungkap dia dalam acara Corporate Rebranding Semen Indonesia Group di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (11/2).
Menurutnya, perilaku tersebut dapat menyebabkan negara kecanduan impor aspal dari luar negeri, sehingga tak mampu memproduksi secara mandiri. "Itu akan tumbuh menjadi lebih besar. Ketergantungan dari negara lain jadi isu. Maka kita punya masalah tentang kemandirian, tentang independensi," tegasnya.
(mdk/azz)