Bank BJB Suntik Bulog Modal Rp1 Triliun untuk Akselerasi Bisnis
Perum Bulog mendapatkan dana segar sebesar Rp1 triliun dari Bank BJB untuk mengakselerasi kinerja dan programnya. Ada empat paket yang disepakati dalam bentuk kerjasama antara keduanya.
Perum Bulog mendapatkan dana segar sebesar Rp1 triliun dari Bank BJB untuk mengakselerasi kinerja dan programnya. Ada empat paket yang disepakati dalam bentuk kerjasama antara keduanya.
Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan di Gedung Sate, Kota Bandung, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (23/12). Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil; Direktur Utama BJB, Yuddy Renaldi; dan Direktur Utama Bulog, Budi Waseso.
Adapun empat paket kerja sama yang disepakati adalah fasilitas Kredit Modal Kerja sebesar Rp1 triliun, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada Rumah Pangan Kita (RPK) yang merupakan jaringan pemasaran Bulog.
Lalu, pemberian fasilitas kredit kepada produsen gabah/beras mitra Program On Farm yang dikelola Perum Bulog, penyaluran fasilitas dan bantuan pembayaran kolektif angsuran BJB Kredit Guna Bhakti bagi pegawai Perum Bulog.
Budi Waseso mengatakan pihaknya mencari pendanaan untuk melaksanakan tugas dari pemerintah dengan suku bunga yang kompetitif. Sejauh ini meski suku bunga Bank Indonesia sudah turun tapi tidak langsung berdampak pada penurunan suku bunga pinjaman. Terlebih, perusahaan yang dipimpinnya selama ini memiliki utang hingga Rp28 triliun.
Kerjasama yang dijalin dengan badan usaha milik daerah (BUMD) seperti BJB merupakan salah satu skema yang dilakukan. "Perum Bulog sebagai perusahaan logistik dan pangan pokok mempunyai kinerja untuk mendistribusikan kebutuhan demi menjaga kondisi harga tetap stabil," kata dia.
"Untuk mewujudkan itu Bulog melakukan berbagai transformasi bisnis salah satunya dengan menambah mitra kerja baik dari pemerintah maupun swasta. Per hari ini, kerjasama sudah bisa berjalan," ia melanjutkan.
Sementara itu, Direktur Utama bank BJB, Yuddy Renaldi menyatakan kerja sama tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi kedua belah pihak.
Menurutnya, perusahaan dan para pegawai bisa menikmati fasilitas layanan perbankan yang disediakan untuk berbagai macam keperluan bisnis dan keuangan.
Selain itu, baginya kerjasama ini mendatangkan potensi penerimaan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan fee based income.
"Kita membiayai di awal walaupun di akhir tapi sifatnya off stock daripada Bulog. Jadi Bulog nanti yang akan beli nanti hasil dari para petani off stock buyernya dari Bulog. Jadi kita ikut melakukan pembiayaan dari petani maupun di akhir di saat mereka mau panen," kata dia.
Sementara luasan 50.000 hektar yang sudah diberikan Bulog terdiri dari tiga wilayah. Yakni, Cirebon, Indramayu dan Subang. Suntikan dana pun bisa bertambah bergantung pada tingkat kinerja bisnis yang berkembang.
"Kalau pembiayaan yang diberikan ke Bulog ya Rp1 triliun sementara ini. Kita lihat kondisi sebenarnya Bulog akan melihat kemampuan finansial dari mereka juga. Sepanjang memang sebaran yang perlu dilakukan pembiayaan kita akan lakukan," pungkasnya.
(mdk/bal)