LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Astra dukung Jokowi naikkan harga BBM

Sistem subsidi BBM juga jadi alasan Astra malas beralih memproduksi mobil berbahan bakar gas.

2014-09-17 20:03:26
Astra Internasional
Advertisement

PT Astra International Tbk (ASII) tidak mempersalahkan bila Presiden Terpilih Joko Widodo hendak menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Sekalipun lini usaha mereka di bidang otomotif bisa terdampak negatif, pemegang lisensi beberapa merek mobil dan motor Jepang ini menganggap pengurangan subsidi penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur.

Astra juga tidak mempermasalahkan nominal kenaikan harganya, entah itu Rp 2.000 per liter atau malah Rp 3.000 per liter.

"Kami sambut gembira itu dana yang bisa disave (dengan menaikkan harga jual BBM). Kalau ini bisa dimanfaatkan untuk pembangunan akan baik," kata Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto di Jakarta, Rabu (17/9).

Advertisement

"Saya rasa kalau ada kenaikan harga, mungkin November tahun ini cukup memadai," imbuhnya.

Produsen otomotif, kata Prijono, bukannya senang dengan harga premium dan solar murah. Sedikitnya jalan raya yang terbangun selama ini, karena tak tersedia dana infrastruktur akibat tersedot buat subsidi, justru merugikan pabrikan mobil.

Gaikindo pernah mengusulkan proposal kepada pemerintah, agar BBM subsidi didistribusikan hanya kepada transportasi publik dan sepeda motor.

Advertisement

Dia yakin, kalau mobil pribadi dilarang beli BBM murah, maka separuh dana subsidi energi bisa dihemat pemerintah.

"Kalau alokasi (BBM subsidi) tetap harus dijual dengan harga keekonomian," kata Prijono.

Selain itu, sistem subsidi BBM juga jadi alasan Astra malas beralih memproduksi mobil berbahan bakar gas. Prijono tidak yakin Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) bisa tumbuh subur, selama premium dan solar subsidi masih ada di pasaran.

"Jadi saat ide (konversi ke gas) itu diluncurkan masih akan susah. Dan stasiun pengisian BBG juga belum banyak," tandasnya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.