Argentina krisis, tipis investasi asing masuk Indonesia
Ekonom Senior Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan krisis yang terjadi di Argentina menciptakan kekhawatiran di negara berkembang termasuk Indonesia. Sebab, pasar keuangan berpotensi terpengaruh. Dia menjelaskan arus modal ke Indonesia akan tersendat.
Setelah Turki, kini Argentina menyusul terkena krisis keuangan. Krisis di negeri Tango tersebut dipastikan akan menghambat aliran modal terutama di negara-negara berkembang.
Ekonom Senior Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan krisis yang terjadi di Argentina menciptakan kekhawatiran di negara berkembang termasuk Indonesia. Sebab, pasar keuangan berpotensi terpengaruh.
"Finansial market cukup besar karena pengaruhi arah aliran modal. Capital modal itu pengaruh banget dengan sentimen suku bunga dan kondisi ekonomi," kata Andry dalam acara Macroeconomic Outlook di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (30/8).
Dia menjelaskan arus modal ke Indonesia akan tersendat sebab Indonesia dikategorikan bersama negara berkembang lainnya yang tengah mengalami defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD).
Sebagai informasi, sepanjang 2017, Indonesia mengalami defisit neraca transaksi berjalan sebesar 1,7 persen dari GDP. Sementara negara berkembang lainnya yang mengalami defisit, antara lain Argentina 4,8 persen, India 1,9 persen, Brasil 0,48 persen, Filipina 0,8 persen, Turki 5,5 persen, dan Afrika Selatan 2,5 persen.
Padahal dari indikator lainnya, seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi, Indonesia masih bagus. Hingga kuartal II 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,27 persen sementara inflasi tergolong rendah sebesar 3,25 persen.
"Sentimen itu, membuat Indonesia dikategorikan sama dengan negara berkembang lainnya yang sedang defisit transaksi berjalan," ujarnya.
Krisis keuangan di Argentina disebabkan karena beberapa faktor terutama indikator makro ekonomi Argentina yang sangat buruk. Selain rasio defisit transaksi berjalan terhadap GDP yang tinggi, pada kuartal II 2018 Argentina mencatat inflasi sebesar 23,17 persen. Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi hanya 3,6 persen.
Baca juga:
Dampak mengerikan Venezuela, negara kaya raya yang bangkrut
Harga tisu toilet di Venezuela kini 2,6 juta bolivar
BI sebut dunia tengah hadapi perang dagang, perang mata uang dan perang moneter
Fakta tentang Venezuela, negara kaya minyak kini jadi melarat
Parahnya krisis di Venezuela, tumpukan mata uang Bolivar senilai dengan tisu toilet
IMF belum terima permintaan dana talangan dari Turki
Pengusaha yakin krisis ekonomi seperti Turki tak akan terjadi di Indonesia