LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Ancaman Resesi Global Makin Nyata, Bagaimana Pengaruhnya ke Ekonomi Indonesia?

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo masih optimis pertumbuhan ekonomi tahun 2023 tumbuh di angka 4,5 persen hingga 5,3 persen. Kemudian di tahun 2024 terus meningkat hingga 5,5 persen.

2022-11-30 13:56:52
Resesi Ekonomi
Advertisement

Awan gelap resesi global masih membayangi perekonomian Indonesia tahun depan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan memperkirakan bahwa ekonomi global masuk dalam jurang resesi mulai awal tahun depan. Jokowi mengingatkan, pada tahun 2023 keadaan semua negara akan mengalami kondisi sulit.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo masih optimis pertumbuhan ekonomi tahun 2023 tumbuh di angka 4,5 persen hingga 5,3 persen. Kemudian di tahun 2024 terus meningkat hingga 5,5 persen.

"Pertumbuhannya akan cukup baik 4,5 persen - 5,3 persen pada 2023 dan meningkat 4,7 persen - 5,5 persen pada 2024," kata Perry dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (30/11).

Advertisement

Selain itu, tingkat inflasi akan kembali pada sasarannya yakni 2-4 persen di tahun 2023. Kemudian di tahun 2024 kembali terkendali di kisaran 2,5 persen.

"Inflasi yang masih sangat tinggi sekarang akan kembali ke sasaran 3 plus minus 1 persen pada dan 2,5 plus minus 1 persen pada 2024," katanya.

Tak hanya itu, dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi diproyeksi terus membaik. Diperkirakan dalam 5 tahun ke depan ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 5,8 persen.

Advertisement

"Dalam jangka menengah pertumbuhan ekonomi dapat meningkat 5 persen sampai 5,8 persen pada 2027," kata dia.

Sisi Inflasi Terkendali

Dari sisi inflasinya, Bos BI ini optimis tingkat inflasi bisa terkendali di angka 2,5 persen plus minus 1 persen. Asalkan ketahanan eksternal semakin kuat.

"Inflasi rendah 2,5 plus minus 1 persen, (dengan) ketahanan eksternal semakin kuat," kata dia.

Optimisme tersebut bisa tercapai dengan sinergi erat antara subsidi energi pemerintah, kenaikan suku bunga acuan bank sentral, stabilitas rupiah. Termasuk koordinasi tim pengendalian inflasi pusat dan daerah serta adanya gerakan nasional pengendalian inflasi pangan.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.