Akhir tahun, BCA target bunga kredit di bawah 10 persen
"Akhir tahun tercapai, nanti yah 9,9 persen."
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menargetkan bakal menurunkan suku bunga kredit hingga single digit pada akhir tahun. Ini sejalan dengan permintaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar perbankan nasional memangkas suku bunganya di bawah 10 persen.
"Akhir tahun tercapai, nanti yah 9,9 persen. Itu lebih baik daripada di atas 10 persen, sudah bertahap kami lakukan, kredit KPR sudah mendekati, kemudian komersial juga, ritel dan mikro bisa bertahap," ujar Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Kamis (3/3).
Jahja mengungkapkan, pihaknya sudah mulai melakukan efisiensi biaya kredit untuk mendukung permintaan OJK tersebut. Saat ini biaya kredit sebesar 3,5-4 persen.
"Surat cinta dari OJK juga menyebutkan kredit di akhir tahun itu single digit. Yah tentunya kami akan berusaha sedikit demi sedikit melakukan adjustment," katanya.
"Sebenarnya dari anggaran kami sudah sedikit banyak menyesuaikan itu. Kredit kita sebenarnya sudah kita decline dari segi budget, tapi mohon maaf ini tidak bisa kita disclosure angkanya. Tapi yang jelas akan lebih kecil daripada yang kita capai saat ini," terang dia.
Langkah efisiensi lainnya dengan memamgkas target penambahan jumlah ATM dan kantor cabang baru.
"Efisiensi lain bikin cabang baru kita tinjau ulang, kalau tahun ini cabang 1.182, tahun lalu tambah 73 cabang, tahun ini 40 cabang. Tapi dengan kondisi ini separuhnya saja 20 cukuplah," katanya.
"Nah ATM juga, semula nambah 2.759 mesin dari rencana tahun ini, tapi karena situasi kaya bgini yah 500-1000 mesin ATM saja. Karena biaya mahal, lebih efisien," imbuhnya.
Sepanjang tahun lalu, BCA mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 387,6 triliun. Tumbuh 11,9 persen dari tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit segmen korporasi mencapai 17,2 persen menjadi Rp 141,3 triliun. Kredit komersial dan UKM naik 9 persen menjadi Rp 146,2 triliun.
"Pertumbuhan kredit korporasi, komersial dan UKM ditopang oleh membaiknya kondisi ekonomi dan siklus konsumsi yang meningkat menjelang akhir tahun," ungkap dia.
Sementara itu, penaikan kredit konsumer sebesar 8,9 persen menjadi Rp100,5 triliun. Kredit rumah tumbuh 8,7 persen menjadi Rp 59,4 triliun, sementara KKB naik 9,6 persen menjadi Rp31,6 triliun di 2015.
Pada periode yang sama, outstanding kartu kredit meningkat 8,1 persen menjadi Rp9,5 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) pada level 0,7 persen dengan rasio cadangan kredit bermasalah sebesar 322,2 persen.
Porsi permodalan dan likuiditas terjaga di tingkat yang sehat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 18,7 persen dan rasio kredit terhadap pendanaan (LDR) sebesar 81,1 persen per 31 Desember 2015
(mdk/yud)