Ahok soal Ditolak jadi Bos Pertamina: Sudah Biasa, Kalau Dapat Tugas Kita Laksanakan
Dia menyebut penolakan itu tidak masalah, tetapi nantinya jika dapat tugas sebagai petinggi Pertamina siap melaksanakannya.
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menilai penolakannya menjadi petinggi Pertamina sudah biasa. Menurutnya penolakan itu bagian dari kehidupan, dan dia menanggapinya dengan santai.
"Ditolak melulu hidup gue kok. Hidup ini tidak ada yang setuju 100 persen, Tuhan saja ada yang menentang," kata Ahok di Workshop fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, Semarang, Rabu (20/11).
Dia menyebut penolakan itu tidak masalah, tetapi nantinya jika dapat tugas sebagai petinggi Pertamina siap melaksanakannya.
"Jika ditunjuk ya kita siap menjalankan tugas," ujarnya.
Seperti diketahui, kabar Ahok menjadi petinggi Pertamina mendapat penolakan dari Serikat Pekerja Pertamina yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu dan PA 212.
Mampukah Ahok Kerek Kinerja BUMN?
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah membuat gebrakan dengan mengajak sejumlah tokoh untuk bergabung di tubuh BUMN. Yang Paling Kontroversial, yakni Basuki Tjahaja Purnama, dan baru-baru ini mantan Komisioner KPK Chandra Hamzah juga dipanggil Erick Thohir.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, dampak kehadiran figur-figur tersebut terhadap kinerja BUMN masih perlu waktu. Sebab, harus diketahui secara pasti di mana mereka ditempatkan.
"Karena kan posisi dia itu di BUMN akan menentukan perannya, kontribusinya dia, jadi komisaris atau direksi itu totally different," ujar dia, di Jakarta, Rabu (20/11).
Misalnya sosok Ahok, menurutnya Ahok tidak dapat menjadi satu-satunya jaminan bahwa kinerja BUMN pasti terkerek.
"Seorang Ahok ditempatkan di BUMN, mungkin juga tidak akan mengubah BUMN secara keseluruhan. Yang bisa mengubah BUMN secara keseluruhan ya Kementerian BUMN itu sendiri, bukan seorang direksi. Jadi, dia akan jadi sarana atau alat bagi kementerian BUMN untuk mencapai arah tujuannya," lanjut dia.
Dia pun mengharapkan Erick Thohir lebih transparan dalam mengkomunikasikan kebijakannya. Dengan demikian, masyarakat mendapat informasi yang jelas.
"Kalau seandainya, Pak Erick Thohir melihat BUMN ini tidak efisien banyak korupsi, arah saya pembersihan, meningkatkan efisiensi, memberantas korupsi, makanya saya tempatkan orang-orang yang seperti Ahok, Chandra Hamzah, jadi jelas arahnya. Tapi sekarang ini kan kita belum tahu arahnya seperti apa kita belum tahu," tandasnya.
(mdk/idr)