LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Agustus 2018, ekspor CPO Indonesia ke India tertinggi sepanjang sejarah

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan, sepanjang Agustus 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia sebesar 3,3 juta ton atau naik 2 persen dibandingkan dengan ekspor Juli 2018 sebesar 3,22 juta ton.

2018-10-03 18:27:26
ekspor impor
Advertisement

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan, sepanjang Agustus 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia sebesar 3,3 juta ton atau naik 2 persen dibandingkan dengan ekspor Juli 2018 sebesar 3,22 juta ton. Meski demikian, ekspor minyak sawit dan turunannya menurun 2 persen secara year on year.

"Secara year on year kinerja ekspor dari Januari-Agustus mengalami penurunan sebesar 2 persen atau dari 20,43 juta di Januari-Agustus 2017 turun menjadi 19,96 juta ton pada periode yang sama 2018," ujar Mukti melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (3/10).

Mukti mengatakan, permintaan pasar global yang tinggi akan minyak sawit masih belum mampu mengerek harga CPO global. Sebaliknya harga CPO global yang rendah dimanfaatkan oleh trader untuk membeli sebanyak-banyaknya.

Advertisement

"Pembelian CPO dan produk turunannya Agustus ini paling tinggi dicatatkan oleh India sebesar 823 ribu ton, atau meningkat sekitar 26 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ini merupakan volume tertinggi sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit Indonesia dengan India," jelasnya.

Peningkatan impor CPO dan produk turunannya juga dibukukan oleh China sebesar 26 persen, Amerika
Serikat 64 persen, Negara Afrika 19 persen dan Pakistan 7 persen. Di sisi berlawanan, Negara Uni Eropa mencatatkan penurunan impor CPO dan produk turunannya sebesar 10 persen dan diikuti Bangladesh sebesar 62 persen.

"Penurunan permintaan oleh Negara Uni Eropa karena masih tingginya stok minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Sementara Bangladesh mengalami penurunan yang drastis karena pada bulan sebelumnya telah melakukan impor yang tinggi sehingga stok menumpuk," jelasnya.

Advertisement

Di sisi produksi, sepanjang bulan Agustus 2018 produksi diprediksi mencapai 4,06 juta ton atau menurun sekitar 5 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,28 juta ton. Penurunan produksi selain karena faktor iklim dan pola produksi bulanan juga kemungkinan disebabkan petani tidak memanen dengan maksimal karena harga yang rendah.

"Namun, secara year on year produksi CPO dan PKO dari Januari-Agustus 2018 mencapai 30,67 juta ton atau membukukan kenaikan sebesar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 25,85 juta ton. Demikian juga halnya stok nasional masih cukup tinggi sehingga di beberapa tempat mempengaruhi perdagangan CPO/TBS."

Baca juga:
Strategi kurangi defisit transaksi berjalan versi UOB Indonesia
Bos Adaro sebut pembatasan impor batu bara China tak ganggu kinerja perusahaan
Pemerintah siapkan diskon PPh untuk bunga DHE yang dibawa kembali ke RI
Pertama kali, Sumatera Barat ekspor manggis ke China
5 Temuan mencengangkan BPK dalam IHPS semester I 2018
Sejak 2014 hingga 2017, program pengentasan impor Kementan dinilai BPK tak efektif
Indonesia bakal ekspor vape ke Eropa tahun ini

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.