5 Sindiran untuk orang kaya yang isi mobilnya pakai premium
Pemerintah berulang kali mengeluhkan banyaknya mobil mewah yang mengkonsumsi BBM bersubsidi.
April 2012, media-media di dalam negeri ramai memberitakan soal fenomena mobil mewah di Jakarta yang kepergok memenuhi tankinya dengan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Mobil mewah ratusan juta tak malu ikut mengantre BBM bersubsidi jenis premium bersama kendaraan umum dan sepeda motor.
Saat itu pemerintah tengah gencar memberikan penyadaran kepada pengguna dan pemilik mobil mewah agar tidak menggunakan BBM bersubsidi. Namun, fenomena mobil mewah 'meminum' premium masih terjadi hingga saat ini.
Pemerintah berulang kali mengeluhkan banyaknya mobil mewah yang mengonsumsi BBM bersubsidi. Sebab, subsidi yang diberikan negara, ikut dinikmati golongan yang tidak seharusnya menerima subsidi. Kementerian ESDM mencatat, 80 persen orang kaya di Jakarta ikut menerima subsidi dari pemerintah dalam bentuk premium.
Pemerintah memang tidak dapat melakukan pembatasan terhadap mobil mewah untuk membeli bahan bakar premium. Karena, pemerintah tidak memiliki dasar hukum. Masalah konsumsi BBM masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah.
Semakin bertambah banyaknya produksi kendaraan bermotor menambah panjang daftar masalah terkait subsidi BBM. Kondisi ini berkorelasi dan berbanding lurus dengan meningkatnya konsumsi BBM di dalam negeri. Otomatis pemerintah semakin sulit menekan dan menjaga subsidi BBM.
"Konsumsi BBM nasional 2013 mencapai 75 juta kiloliter (KL). 48 juta KL adalah BBM subsidi. Impor kita sangat besar, lebih dari 50 persen," ujar Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Kementerian ESDM Muhammad Hidayat dalam seminar Asosiasi Pengusaha CNG Indonesia, di Jakarta, Kamis (27/2).
Hal itu diperparah dengan fakta bahwa produsen mobil tidak habis-habisnya memproduksi mobil dengan teknologi terbaru. Sayangnya, itu tidak diimbangi dengan kampanye penggunaan BBM nonsubsidi.
"Mereka hanya mengejar bisnis tanpa mau mendidik masyarakat. Celakanya lagi, bengkel-bengkel menyetel ulang mesin sehingga mobil-mobil baru bisa menggunakan bahan bakar dengan oktan 88, padahal standarnya oktan 91," katanya.
Pemerintah serta institusi terkait sudah berulang kali menyindir kelakuan orang kaya pemilik mobil mewah, tapi tetap mengkonsumsi BBM bersubsidi. Merdeka.com mencatat beberapa sindiran pemerintah pada orang kaya yang mengisi tangki mobil mewahnya dengan premium. Berikut paparannya.
Mampu beli mobil, mikir beli bensin
Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Kementerian ESDM Muhammad Hidayat mengatakan, banyak masyarakat mampu membeli kendaraan mewah. Sayangnya, kebanyakan mereka enggan mengisi kendaraan mewahnya dengan BBM non subsidi.
"Inilah uniknya konsumen Indonesia. Mereka begitu mampu membeli pelbagai kendaraan mahal, begitu masuk SPBU mikir beli bahan bakarnya," sindir Hidayat.
Punya perasaan lah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengaku sudah sering kali mengingatkan pengguna mobil mewah untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi. Namun, kini imbauan itu tidak berjalan karena disparitas harga antara bahan bakar premium dan pertamax.
"Subsidi yang disediakan pemerintah untuk BBM itu buat yang tidak mampu. Tapi yang paling banyak 70 persen disedot oleh yang mampu. Jadi ratusan triliun uang, jatuhnya ke yang mampu, jadi negara ini menyubsidi orang kaya," ujar Jero Wacik di Istana Negara, Selasa (3/4).
Dia juga mengeluh karena subsidi BBM sudah sangat besar, namun tidak seluruhnya dapat dinikmati oleh masyarakat tidak mampu. Padahal, lanjut Jero, biaya yang tersedot itu dapat digunakan sebagai dana pembangunan di daerah-daerah tertinggal.
"Memang aturannya belum dibuat, saat ini sedang disiapkan. Tapi imbauan dululah. Sementara yang punya tiga mobil, kaya, sudah masuk golongan menengah atas itu punyalah perasaan untuk jangan membeli yang bersubsidi, belilah pertamax atau sejenisnya. Subsidi kita cadangkan untuk yang menengah bawah karena batasnya 40 juta kiloliter," sindir Jero Wacik.
Mobil mewah pakai premium itu kelewatan
Tren mobil mewah yang memilih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Premium saat melakukan pengisian di SPBU, mengundang reaksi pemerintah. Namun, pemerintah hanya bisa mengimbau pemilik kendaraan mewah untuk menggunakan BBM non subsidi.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa berharap, pemilik kendaraan mewah yang sebelumnya menggunakan BBM non subsidi tidak berpindah ke BBM bersubsidi hanya lantaran disparitas harga. "Diimbau kepada orang-orang yang sudah pakai Pertamax, tolong jangan pindah ke Premium," ungkap Hatta, tahun lalu.
Hatta menilai, kendaraan mewah yang menggunakan BBM bersubsidi merupakan pelanggaran. "Mobil mewah menggunakan BBM bersubsidi kelewatan itu namanya," katanya. jika semakin banyak mobil mewah yang menggunakan Premium, lanjut dia, akan mengakibatkan pembengkakan anggaran subsidi dan kuota.
Tak tahu diri
PT Pertamina (Persero) merasa kesal dengan banyaknya mobil mewah yang ikut menikmati subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal, pada hakekatnya, mobil mewah tidak pantas mendapatkan subsidi BBM.
Namun, Pertamina mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi tersebut. Alasannya, tidak ada aturan yang melarang hal tersebut.
"Banyak yang tidak tahu diri, naik BMW pakai premium, dan tidak ada payung hukum yang melarang mereka," ujar Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya Yuktyanta, tahun lalu.
Orang kaya bertobatlah
Masyarakat diajak ikut mengawasi para orang kaya yang memiliki kendaraan mewah tapi masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Kita hajar mereka. Yang mampu diupayakan berhenti pakai BBM bersubsidi bertobatlah. Orang mampu sadarlah, konsumsi pertamax gitu lho," ujar Direktur BBM BPH Migas, Djoko Siswanto kepada wartawan usai diskusi di Warung Daun, tahun lalu.
Bukan hanya imbauan yang ditunjukan kepada masyarakat, Djoko juga mendesak petugas SPBU mampu dengan cermat membedakan mobil mewah dan mobil dinas. Menurutnya, operator SPBU memiliki peran penting menekan penyalahgunaan BBM bersubsidi.
(mdk/noe)