5 Puja puji kenaikan peringkat daya saing Indonesia 2017 ke posisi 36
Peringkat daya saing Indonesia 2017 meningkat 5 posisi dari tahun lalu. Dilansir dari weforum.org, korupsi masih menjadi permasalahan terbesar dalam kemudahan berusaha di Indonesia. Diikuti oleh ketidakefisienan birokrasi, akses ke pembiayaan, serta masih rendahnya ketersediaan infrastruktur.
Peringkat daya saing Indonesia 2017 meningkat 5 posisi dari tahun lalu. Peringkat Indonesia saat ini berada di posisi 36. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR), Basuki Hadimuljono, mengatakan untuk tahun ini infrastruktur Indonesia juga mengalami kenaikan dari peringkat 60 menjadi peringkat 52. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa daya saing infrastruktur Indonesia terus mengalami peningkatan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati angkat bicara soal meningkatnya peringkat daya saing Indonesia dari posisi ke-41 menjadi peringkat 36, berdasarkan survei World Economic Forum (WEF). Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi mengatakan bahwa peningkatan daya saing itu menunjukkan kepercayaan global kepada Indonesia juga meningkat di tengah situasi ekonomi dunia masih belum stabil. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai peningkatan daya saing Indonesia di kancah global menunjukkan bahwa produk-produk industri nasional semakin kompetitif baik di pasar domestik maupun ekspor. Capaian ini tidak terlepas dari peran manufaktur dalam negeri yang memanfaatkan teknologi digital terkini serta aktif melakukan kegiatan riset untuk menciptakan inovasi. Peringkat daya saing Indonesia 2017 meningkat 5 posisi dari tahun lalu. Peringkat Indonesia saat ini berada di posisi 36. Hal ini dianggap positif oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumardi meski dirinya menolak berpuas diri.
Dilansir dari weforum.org, korupsi masih menjadi permasalahan terbesar dalam kemudahan berusaha di Indonesia. Diikuti oleh ketidakefisienan birokrasi, akses ke pembiayaan, serta masih rendahnya ketersediaan infrastruktur.
"Sama seperti Korea, Indonesia telah memperbaiki kinerja sejumlah aspek dasar penilaian," tulis WEF.
Peringkat Indonesia ini didorong utamanya oleh kepemilikan pasar yang besar (berada di posisi 9) dan kestabilan makro ekonomi (berada di posisi 26). Sementara, Indonesia dianggap sebagai inovator tertinggi diantara negara berkembang.
"Indonesia menduduki peringkat 31 pada aspek inovasi dan 32 pada kepuasan berbisnis."
WEF juga mencatat Indonesia masih memiliki nilai rendah pada aspek kesiapan teknologi. Kondisi ketenagakerjaan Indonesia turut menjadi sorotan salah satunya akibat rendahnya keterlibatan perempuan dalam dunia kerja.
Atas kenaikan peringkat ini, sejumlah pejabat pun melontarkan puja pujinya diikuti sejumlah catatan didalamnya. Apa saja pujian tersebut?Infrastruktur naik peringkat
"Saya melihatnya bahwa salah satu kontribusinya adalah karena pembangunan infrastruktur dibuktikan dengan daya saing infrastrukturnya sendiri kan naik dari 60 menjadi 52 rankingnya. Jadi ada kontribusinya, Alhamdulillah bahwa apa yang kami kerjakan salah satunya," tuturnya.
Namun, diakui, infrastruktur di wilayah Indonesia terutama bagian Timur memang masih menjadi perhatian khusus pemerintah. Maka dari itu, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur dan memperbaiki yang telah ada.Indonesia segera dibanjiri investasi
Menurutnya, kenaikan peringkat daya saing menggambarkan bahwa Indonesia bakal dibanjiri investasi. Baik investasi dalam bidang infrastruktur, pendidikan, maupun sosial ekonomi.
"Kenapa World Economic Forum mengatakan Indonesia daya saingnya maju lagi dari 41 jadi 36 itu penting. Karena itu menggambarkan Indonesia memiliki daya atraksi untuk berinvestasi, dan itu penting. Karena itu menandakan bahwa the capital will come to the economy," ujar Sri Mulyani.Kepercayaan global pada Indonesia meningkat
"Kita memang bisa dikatakan lebih baik ketimbang negara lain untuk investasi, pertumbuhan kita baik, dan politik stabil meskipun ada ini-itu. Akan tetapi, itu semua tentu diperhatikan oleh luar negeri, dan kita juga harus memperhatikan itu," katanya.
Oleh karena itu, kata Sofjan, saat ini pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla terus meningkatkan koordinasi di semua lini pemerintahan, terlebih menjelang pilkada dan Pilpres 2019.Daya saing produk ikut terkerek
"Guna mendongkrak daya saing Indonesia dan memperoleh manfaat dari perubahan sistem global di era Industry 4.0 saat ini, hal penting yang harus dibangun adalah penguatan inovasi di sektor industri," ujar Menteri Airlangga menanggapi laporan World Economic Forum (WEF) terkait Global Competitiveness Index 2017-2018 di Jakarta.
Menteri Airlangga mengajak industri nasional baik skala besar maupun sektor IKM dapat memanfaatkan perkembangan teknologi digital terkini dalam upaya kesiapan menghadapi era Industry 4.0. Sistem ini berpeluang membangun produksi manufaktur yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Bahkan, menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12 sampai 15 persen.Perbaikan kondisi infrastruktur mulai terasa
Menurutnya, salah satu faktor kenaikan daya saing Indonesia karena infrastruktur mulai memadai sehingga memudahkan investor untuk berinvestasi di Indonesia. Bukan hanya itu, perbaikan infrastruktur juga dapat meningkatkan turis untuk datang ke Indonesia.
"Contoh (bandara) Silangit, dia beralih menjadi bandara internasional, harus mendatangkan turis yang baik. Ini era yang baik," katanya.