5 Komoditas Indonesia Paling Banyak Diekspor Sepanjang 2021
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan, ekspor Indonesia cukup menggembirakan sepanjang 2021. Setidaknya ada 5 komoditas yang berperan penting mendongkrak ekspor Indonesia. Kelima komoditas itu adalah batu bara, CPO dan turunannya, besi dan baja, alat elektronik serta otomotif.
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan, ekspor Indonesia cukup menggembirakan sepanjang 2021. Setidaknya ada 5 komoditas yang berperan penting mendongkrak ekspor Indonesia. Kelima komoditas itu adalah batu bara, CPO dan turunannya, besi dan baja, alat elektronik serta otomotif.
"Barang apa saja yang kita ekspor? kalau kita lihat pertama adalah batubara mencapai USD 32,8 miliar pertumbuhannya 90 persen lebih dibandingkan periode sama tahun lalu USD17,6 miliar di 2020," katanya, Jakarta, Selasa (18/1).
Komoditas kedua adalah produk CPO dan turunannya. Ekspor produk ini tumbuh hingga 58,48 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. "CPO dan turunannya, pertumbuhannya 58,48 persen dari USD20,72 miliar pada 2020," kata Mendag Lutfi.
Kemudian, kabar baik juga datang dari komoditas besi dan baja. Pertumbuhan ekspor sektor ini bahkan cukup besar yaitu 92 persen dari USD10,86 miliar menjadi USD20,95 miliar.
"Dengan mayoritas ekspor (besi dan baja) ke China. Ketika kita bisa ekspor ke China, di mana mereka terkenal punya harga barang murah, artinya kita bisa jual ke siapa saja," jelasnya.
Mendag Lutfi menambahkan, pertumbuhan ekspor yang sama juga terjadi pada sektor elektronik serta alat kendaraan bermotor dan suku cadangnya. Terutama kendaraan bermotor dan suku cadangnya meningkat cukup drastis.
"Ini angka yang besar dan kemudian saya juga menggaris bawahi kendaraan bermotor dan suku cadangnya pertumbuhannya 30,84 persen mencapai USD8,64 miliar," paparnya.
Pemerintah Catat Surplus Neraca Perdagangan 2021 Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir
Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai, kinerja ekspor dan impor Indonesia tahun 2021 ditutup dengan pencapaian positif pada neraca perdagangan. Terlihat di Desember 2021, Indonesia kembali mengalami surplus sebesar USD 1,02 miliar.
"Ini membawa tren surplus kembali dapat dipertahankan sejak Mei 2020 atau selama 20 bulan berturut-turut," kata Menko Airlangga dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (18/1).
Sepanjang 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 35,34 miliar. Nilai surplus tersebut hampir menyentuh rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir atau sejak 2006. Sebab pada tahun 2006 Surplus neraca perdagangan sebesar USD 39,37 miliar. Padahal, kondisi perdagangan internasional saat ini penuh dengan ketidakpastian.
"Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan. Kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia, sehingga semakin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut di tahun ini," tutur Menko Airlangga.
Kinerja surplus sepanjang 2021 ditopang dari nilai ekspor yang mencapai USD 231,54 miliar. Tumbuh dua digit sebesar 41,88 persen (yoy). Hilirisasi komoditas unggulan, seperti turunan produk CPO, berhasil mendorong performa ekspor Indonesia. Hal tersebut tercermin dari ekspor komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) yang sepanjang 2021 mencapai USD 32,83 miliar atau meningkat sebesar 58,48 persen (yoy).
Selain CPO, hilirisasi komoditas nikel juga memperkuat performa ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekspor komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) mampu tumbuh sebesar 58,89 persen (yoy) menjadi sebesar USD 1,28 miliar.
Lebih lanjut, dari 10 besar komoditas utama ekspor, komoditas bijih logam, terak dan abu (HS 26) mengalami pertumbuhan tertinggi yakni 96,32 persen (yoy) menjadi sebesar USD 6,35 miliar. Diikuti oleh ekspor komoditas besi dan baja (HS 72) yang juga naik signifikan mencapai 92,88 persen (yoy) menjadi senilai USD 20,95 miliar.
"Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut," kata dia.
(mdk/bim)