LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

5 Dampak kerugian Garuda Indonesia Rp 2,4 triliun

Perseroan yang dipimpin Emirsyah Satar mencatatkan kerugian sebesar USD 211,7 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun.

2014-07-26 08:00:00
Garuda Indonesia
Advertisement

Sepanjang semester pertama tahun ini, kinerja perusahaan penerbangan milik negara, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk belum menggembirakan. Paruh pertama 2014, perseroan yang dipimpin Emirsyah Satar mencatatkan kerugian sebesar USD 211,7 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun.


Penyebab utamanya fluktuasi Rupiah yang membuat harga bahan bakar melonjak tinggi dan kemudian berpengaruh pada tingginya biaya operasional.

Saat ini nilai rupiah masih terdepresiasi hingga 20 persen terhadap mata uang Dolar AS. Perseroan mencatat biaya untuk bahan bakar mencapai hingga 40 persen dari biaya operasional Garuda, sehingga membuat kinerja keuangan Garuda masih merah.

Advertisement

Masalah lain datang dari anak usaha Garuda yang bergerak di penerbangan murah yakni Citilink yang masih merugi otomatis menekan profit perusahaan. Penurunan profit Garuda ditekan persaingan yang semakin ketat serta oleh situasi ekonomi dunia yang belum pulih.

Kerugian tersebut, berhasil ditekan berkat, lonjakan penumpang sebanyak 13.307.351 penumpang, atau meningkat sebesar 12,1 persen dibanding semester I tahun 2013 lalu sebesar 11.869.439 penumpang. Selain itu, didukung meningkatkan muatan kargo yang diangkut pada semester I tahun ini sebesar 12,5 persen menjadi 193.791 ton dari 172.262 ton pada tahun lalu.

Direktur Utama Emirsyah Satar dalam rilisnya mengungkapkan Garuda Indonesia terus memenuhi kewajibannya kepada pihak kreditur. Pada tanggal 23 Juni lalu, Garuda melaksanakan pembayaran pelunasan yang dipercepat atas pinjaman export credit agency (ECA) dan commercial lenders (CL) senilai USD 62,5 juta dan pelunasan utang dengan Citi Club Deal-2 sebesar USD 210 juta.

Advertisement

"Pinjaman tersebut diperoleh dari sindikasi lebih dari 15 lembaga keuangan, diantaranya Lloyds Bank plc sebagai agent dan security trustee, BNP Paribas dan Credit Agricole Corporate and Investment Bank, pada tahun 1996 dan telah direstrukturisasi sepenuhnya pada tahun 2010," katanya.

Merdeka.com mencatat dampak langsung dari menurunnya kinerja keuangan maskapai pelat merah ini. Berikut paparannya.

Tutup rute penerbangan

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia mengisyaratkan bakal menutup penerbangan langsung Jakarta-Taipei mulai 10 Agustus mendatang. Ini menyusul penurunan kinerja perseroan sehingga mencatatkan kerugian sebesar USD 211,7 juta pada semester I-2014.

"Penerbangan Daily ke Taipei secara umum kurang bagus, load factor sekitar 50 persen-60 persen," kata Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, di Jakarta, Kamis (24/7) malam.

Untungnya, Garuda telah menjadi anggota aliansi maskapai internasional Skyteam. Sehingga, maskapai pelat merah masih bisa menjalin kerja sama (code-share) dengan maskapai China Airlines untuk menjual rute Jakarta-Taipei.

"Dengan menjadi anggota Skyteam banyak hal yang bisa kami lakukan, semacam efisiensi. Kami bisa menjangkau ke suatu tujuan tanpa kami perlu terbang sendiri," kata Pujobroto.

Tunda buka rute penerbangan internasional

Garuda juga akan menunda penerbangan internasional ke Mumbai (India) dan Manila (Filipina). Rencana awalnya, Garuda akan mulai terbang ke dua wilayah tersebut selambatnya akhir tahun ini.

"Karena kondisi sekarang ini, mungkin tidak dulu. Penerbangan internasional yang akan dimulai mungkin hanya yang ke London pada 8 september." ujar Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto.


Kendati demikian, menurut Pujobroto, masih ada sejumlah penerbangan internasional Garuda yang masih banyak peminatnya. Semisal, penerbangan ke Jepang, Australia, dan kawasan regional, terutama Singapura.

Kaji ulang pembelian pesawat tahun depan

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia memastikan bakal tetap mendatangkan 27 pesawat baru pada tahun ini. Namun untuk tahun depan, Perseroan perlu mengkaji ulang rencana pembelian pesawat mengingat tahun ini mengalami penurunan kinerja karena kerugian yang cukup besar.

"Kalau yang 2014 sudah kita tetapkan, mungkin yang baru datang sekitar 18 armada. Kalau ditanya rencana penundaan, itu untuk alokasi yang ke depan," ujar Vice President Communication Garuda Indonesia Pujobroto, kemarin.

Adapun 27 armada baru yang akan didatangkan Garuda tahun ini, terdiri dari dua Boeing 777-300 ER. Kemudian, empat Airbus A330, 12 Boeing 737-800NG, tiga Bombardier CRJ1000 NextGen, dan enam ATR 72-600. Ini lebih banyak ketimbang jumlah armada baru yang didatangkan dua tahun sebelumnya, sebanyak 24 pesawat (2013) dan 22 pesawat (2012).

Saat ini, maskapai pelat merah tersebut telah mengoperasikan 149 pesawat. Terdiri dari Boeing 777-300ER, Airbus A330-200/300, Boeing 737-800NG, Bombardier CRJ1000 NextGen, dan ATR72-600 dengan usia rata-rata lima tahun. Jika tak ada aral melintang, Garuda, pada 2015, akan mengoperasikan sebanyak 194 pesawat dengan usia rata-rata 4,8 tahun.


"Kalau kaitannya dengan penundaan pembelian pesawat, sampai saat ini kami masih mengkaji yang mana," kata Pujobroto.

Operasional pesawat uzur dikurangi

Beban operasional yang besar karena tingginya biaya bahan bakar Avtur membuat manajemen Garuda memutar otak.

Akhirnya manajemen sepakat bahwa Garuda akan mengurangi kapasitas sementara ini melalui penghentian operasional pesawat tua yang boros bahan bakar dan menunda kedatangan pesawat yang dipesan.

Belanja modal dikurangi

Salah satu dampak yang dirasakan dari menurunnya kinerja keuangan Garuda adalah keputusan untuk menghemat. Manajemen Garuda sepakat mengurangi belanja modal (Capex) pada tahun ini hingga USD 54 juta.

Sebagai strategi mendorong kinerja keuangan, manajemen Garuda juga akan meningkatkan kegiatan sales dan marketing secara agresif khususnya penumpang corporate, bisnis dan leisure.

(mdk/arr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.