LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

4 Kemajuan Bandara Cengkareng versi Dahlan

Antrean pesawat berkurang, hingga diklaim bisa samai prestasi bandara London, Inggris.

2014-04-25 07:22:00
Jalur penerbangan
Advertisement

Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, berulang kali disorot baik oleh pengguna maupun pejabat pemerintah. Fasilitas penerbangan publik itu merupakan pintu utama Indonesia ke dunia.

Wajar saja, masalah maupun perbaikan pelayanan akan dikomentari. Tak terkecuali seperti diutarakan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan di Jakarta, kemarin, Kamis (24/4). Dia memuji beberapa peningkatan positif bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II itu.

Ini sejalan dengan laporan Majalah Dirgantara Skytrax yang berbasis di London. Dalam laporan triwulan I, Soekarno-Hatta berada di urutan keempat untuk kategori  bandara dengan peningkatan pelayanan terbaik di dunia

Advertisement

Bandara Soekarno-Hatta memiliki 3 terminal penumpang yakni Terminal 1 dan Terminal 2 yang berkapasitas masing-masing 9 juta penumpang per tahun, serta Terminal 3 dengan daya tampung 4 juta penumpang per tahun. 

Tahun lalu, bandara berkode CGK ini tercatat sebagai yang tersibuk ke-8 di dunia dengan total pergerakan penumpang mencapai 62,1 juta penumpang. Akibat kepadatan itu, maskapai dan konsumen sama-sama mengeluh antrean terbang menggila.

Kendati tetapi mengakui adanya kepadatan yang berujung pada keterlambatan jadwal, Dahlan dalam lawatan ke Soekarno-Hatta menyebut sudah ada perbaikan. Kepadatan bandara tersibuk di Tanah Air itu menurutnya sudah berkurang jika dibandingkan beberapa waktu lalu.

Advertisement

Apa saja alasan Dahlan? Berikut pemaparannya seperti dirangkum merdeka.com:

Antrean pesawat cuma 4-5 unit

Perusahaan Umum Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) adalah otoritas aviasi yang baru berdiri tahun lalu. Tugasnya meringankan beban PT Angkasa Pura II, untuk mengatur pesawat hendak mendarat maupun lepas landas.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan lembaga yang baru berusia seumur jagung itu berhasil unjuk gigi. Ini sebabnya, situasi antrean pesawat di Cengkareng mulai membaik.

"Keberadaan AirNav dengan tugas menyeimbangkan landasan satu dan dua, terbukti efektif. Antrean pesawat hanya 4-5 unit. Padahal sebelumnya sampai 14 armada," ungkapnya.

Terlepas dari itu, Dahlan menyadari ada konsekuensi dari kebijakan yang dibuat AirNav. Yakni jarak turun pesawat di landasan II lebih jauh dari terminal.

"Ini semacam senjata makan tuan, ya saya terima karena konsekuensi aturan. Mungkin sekarang urgensinya enggak. Mempercepat keluar landasan dan masuk landasan," jelasnya.

Tak perlu bangun landasan baru

Berkat adanya Airnav, kini Dahlan optimis pengaturan penggunaan landasan penerbangan di Cengkareng bakal membaik.

Kapasitas Bandara Soekarno-Hatta mulanya cuma 56 frekuensi penerbangan per jam. Kemudian setelah Citilink dipindahkan ke Halim Perdanakusuma dan dilakukan pengaturan penerbangan oleh AirNav, saat ini kapasitas menjadi 64 frekuensi penerbangan per jam.

"Nanti Juli menjadi 72, sehingga urgensi pindah ke Halim berkurang, terus Tahun depan menjadi 92 frekuensi," ujarnya.

Dahlan yakin tidak perlu membuat landasan baru untuk meningkatkan frekuensi penerbangan. Terlebih biayanya cukup besar yakni Rp 40 triliun.

"Menurut saya tidak perlu, uang Rp 40 triliun itu kan banyak, pembebasan tanah juga waktu lama. Yang penting itu manajemen diatur lebih baik.

Fasilitas udara dekat Ibu Kota yang sudah kelebihan beban penumpang ini hendak ditingkatkan daya tampungnya menjadi 80 juta orang per tahun.

Pilihan yang sedang ditimbang oleh Kementerian Perhubungan adalah penambahan landasan pacu (runway) ketiga. Soekarno-Hatta sejauh ini cuma memiliki dua runway.

Landasan dua efisien

Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam kunjungan ke Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (24/4), mengapresiasi kepadatan yang mulai berkurang. Salah satu penandanya, karena landasan dua sudah dimanfaatkan secara maksimal untuk penerbangan.

"Dan memang di Cengkareng relatif lebih baik karena pemaksaan terhadap pesawat- pesawat yang tidak mau terbang di landasan dua. Sekarang, dipaksa sudah harus mau di landasan dua. Dulu kan banyak yang ngomong enggak mau, dan minta di landasan satu," jelas Dahlan.

Atas dasar itu, mantan Dirut PLN ini bahkan yakin Bandara Cengkareng bisa melayani penerbangan tanpa perlu membangun infrastruktur baru. PT Angkasa Pura II selaku operator menargetkan pada 2015, frekuensi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta ditargetkan menjadi 92 per jam.

Punya potensi samai Heathrow

Dahlan amat yakin, keberadaan AirNav bisa mengoptimalkan layanan penerbangan di Soekarno-Hatta. Targetnya Cengkareng mampu melayani 72 penerbangan per jam.

Konsep AirNav yang memaksimalkan dua landasan pacu saja memang sudah meniru Bandara Heathrow di Ibu Kota London, Inggris.

Meski belum menyamai frekuensi penerbangan di Bandara London, Dahlan sudah cukup puas jika Bandara Cengkareng bisa mencapai target tersebut.

"Ya mirip-mirip sana lah (Heathrow). Kan teman-teman belajar di sana. Di sana itu, take off dan landing bisa 100 frekuensi dengan dua landasan. Di sini sama, berarti kita bisa sampai 100 dong," jelasnya.

Berkaca pada Bandara Heathrow, Dahlan yakin tidak perlu membuat landasan baru untuk meningkatkan frekuensi penerbangan.

"Yang penting itu manajemen diatur lebih baik. Heathrow saja bisa dua landasan," jelasnya.

(mdk/ard)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.