3 Tahun terakhir, Indonesia 8 kali defisit transaksi berjalan
Defisit transaksi berjalan juga disebabkan adanya pelemahan ekonomi di China.
Bank Indonesia (BI) mencatat, sejak tahun 2011 hingga kuartal II tahun 2013 sudah terjadi delapan kali defisit transaksi berjalan. Indonesia terakhir kali alami defisit transaksi berjalan pada 2004.
"Kita melihat sudah delapan kuartal terjadi defisit transaksi berjalan dan jumlahnya itu cukup besar kalau saya lihat," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat (16/8).
Agus menjelaskan, defisit transaksi berjalan lebih disebabkan karena kondisi yang cukup struktural. Kondisi ini yang harus segera cepat direspons baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah serta Bank Indonesia.
Selain itu, defisit transaksi berjalan juga disebabkan adanya pelemahan ekonomi di China. Bukan lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. Sebab, pelemahan ekonomi China menyebabkan ekspor Indonesia melambat.
"Kita sama-sama tahu pertumbuhan China kuartal kedua dikoreksi sehingga menjadi 7,5 persen dari yang sebelumnya 7,8 persen. Ini dibarengi dengan turunnya harga-harga komoditi yang di tahun 2012 sudah ada penurunan, dan di 2013 memang masih ada penurunan, paling tidak kita lihat dari 8 komoditi utama Indonesia di tahun 2012 itu rata-rata turun 18 persen, dan di tahun 2013 kita perkirakan setahun turun 13 persen," kata dia.
Mantan menteri keuangan ini meyakini tahun ini defisit transaksi berjalan hanya berada pada kisaran di bawah 3 persen terhadap GDP. "Kita harapkan di kuartal III tahun ini kondisinya sudah lebih baik dan secara tahunan current account transaksi berjalan defisitnya akan ada di bawah 3 persen," imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, Indonesia pernah mengalami defisit transaksi berjalan hingga tiga kuartal pada tahun 2008. Namun saat harga bahan bakar minyak (BBM) naik, transaksi berjalan kembali surplus.â¬
âªSebelumnya Agus pernah mengatakan bahwa defisit akan kembali melebar mencapai USD 8,53 miliar pada kuartal III tahun 2013. "Tapi dari hasil Rapat Dewan Gubernur Juli lalu, jumlah defisit berpotensi kembali membengkak sampai USD 9 miliar," tutup dia.
(mdk/noe)