2017, jumlah penduduk miskin di Jateng turun 253.230 orang
Selama periode Maret–September 2017, jumlah penduduk miskin di perkotaan turun 73,51 ribu orang dan penduduk miskin di pedesaan turun 179,72 ribu orang.
Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah tercatat mengalami penurunan hingga 12,23 persen selama tahun 2017. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Tengah, Dadang Soemantri, menuturkan keseluruhan penduduk miskin yang pada Maret 2017 berjumlah 4.450.720 orang, namun per September 2017 berkurang menjadi 4.197.490 orang.
"Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik yang disampaikan awal Januari ini, diketahui adanya pengurangan angka kemiskinan sebanyak 253.230 orang. Secara nasional, penurunan kemiskinan di Jawa Tengah terbanyak kedua setelah Jawa Barat," terangnya, Kamis (4/1).
Selama periode Maret–September 2017, jumlah penduduk miskin di perkotaan turun 73,51 ribu orang dan penduduk miskin di pedesaan turun 179,72 ribu orang. Menurut Dadang, penurunan tersebut sebagian besar dipengaruhi peran komoditi makanan yang mencapai 73,38 persen.
"Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun di pedesaan adalah beras, rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam ras, mi instan, dan gula pasir," jelas Soemantri.
Adapun komoditi non-makanan, kata Dadang, punya pengaruh besar menekan angka kemiskinan di Jateng, antara lain, perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.
"Faktor yang paling berpengaruh terhadap penurunan kemiskinan di Jawa Tengah di antaranya inflasi yang terkendali. Selama Maret 2017-September 2017 terjadi Inflasi sebesar 1,16 persen. Penyaluran beras sejahtera (rastra) yang juga semakin membaik," ungkap Soemantri seraya menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap berkomitmen pada upaya menekan angka kemiskinan pada 2018.
Baca juga:
Rumah roboh diterpa badai, satu keluarga di Sumbar tak punya uang untuk perbaiki
Mensos sebut data BPS jadi bukti program pengentasan kemiskinan efektif
Kemiskinan di Maluku dan Papua masih tinggi, ini kata Sri Mulyani
Menyambung hidup di tanah terlarang Nusakambangan
Beras dan rokok jadi penyebab utama penduduk jatuh miskin