2016, BNI catat salurkan kredit Rp 393 triliun dan NPL 0,4 persen
2016, BNI catat salurkan kredit Rp 393 triliun dan NPL 0,4 persen. Angka penyaluran kredit ini meningkat 20,6 persen dibandingkan periode yang sama 2015 yang tercatat sebesar Rp 326,11 triliun. Pertumbuhan kredit ini melampaui pencapaian industri perbankan Indonesia secara umum di mana per November mencapai 8,5 persen.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat kredit yang disalurkan BNI hingga 31 Desember 2016 mencapai Rp 393,28 triliun. Angka ini meningkat 20,6 persen dibandingkan periode yang sama 2015 yang tercatat sebesar Rp 326,11 triliun.
Wakil Direktur Utama BNI Suprajarto menjelaskan pertumbuhan kredit pada 2016 ini melampaui pencapaian industri perbankan Indonesia secara umum di mana per November 2016 mencapai 8,5 persen. Selain itu, kredit macet atau (NPL) juga membaik dari 0,9 persen pada akhir 2015 menjadi 0,4 persen pada akhir 2016.
Dia menjelaskan, sebesar Rp 286,1 triliun atau 72,7 persen dari total kredit disalurkan ke Segmen Bisnis Banking, sedangkan sebesar Rp 65,1 triliun atau 16,5 persen ke segmen Konsumer Banking.
"Sisanya sebesar 11,8 persen disalurkan melalui kantor-kantor cabang luar negeri dan perusahaan-perusahaan anak," kata Suprajarto di Jakarta, Kamis (26/1).
Dia merinci, untuk kredit melalui segmen Bisnis Banking, sebesar Rp 95,8 triliun disalurkan melalui segmen korporasi yang mampu tumbuh 21 persen dan kredit kepada BUMN sebesar Rp 78,3 triliun atau tumbuh 33,3 persen. "Untuk kredit kepada segmen menengah dan kecil masing-masing tumbuh 19,9 persen dan 20,5 persen," ujarnya
Sementara itu, kredit ke segmen Konsumer Banking, terutama meIalui pinjaman payroll yang tumbuh 128,1 persen dengan outstanding per 31 Desember 2016 mencapai Rp 8,9 triliun. Kredit Perumahan atau KPR per 31 Desember 2016 mencapai Rp 36,4 triliun atau tumbuh 5 persen dan kartu kredit mencapai Rp 10,5 triliun atau tumbuh 7,5 persen.
Suprajarto mengatakan Loan to Deposit Ratio (LDR) BNI naik dari 87,8 persen menjadi 90,4 persen. "Pertumbuhan kredit tersebut tetap didukung oleh fundamental yang kuat di mana tingkat kecukupan permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) tetap terjaga baik pada level 19,4 persen," jelasnya.
Baca juga:
Tumbuh 25 persen, laba bersih BNI 2016 mencapai Rp 11,34 triliun
Kembangkan perkebunan sawit, BNI kucurkan Rp 6 triliun untuk SSMS
BNI gandeng KAI luncurkan kartu pembayaran elektronik kereta
BNI ajak mitra binaan masuki ekosistem ekonomi digital
Cara BNI Life bantu OJK tingkatkan literasi keuangan Indonesia
Perluas jangkauan KUR, BNI buka layanan pengajuan kredit online
Baru 6 bulan beroperasi, BNI Seoul raup laba Rp 13 miliar