Zuhud Adalah Melepaskan Hati dari Pengaruh Dunia, Pahami Tiga Makna di Baliknya
Zuhud adalah melepaskan hati dari pengaruh dunia. Tak bisa dipungkiri, seiring berjalannya waktu kesenangan dunia begitu dicintai oleh sebagian besar manusia.
Zuhud adalah melepaskan hati dari pengaruh dunia. Tak bisa dipungkiri, seiring berjalannya waktu kesenangan dunia begitu dicintai oleh sebagian besar manusia. Mereka seakan-akan lupa bila kesenangan duniawi tersebut hanya berlangsung sementara. Bahkan, tak sedikit pula mereka terlena sehingga melupakan Allah SWT.
Meski begitu, ada pula orang-orang yang sadar dan secara perlahan meninggalkan kesenangan duniawi. Tujuannya tentu untuk mencari ridho Allah SWT dan bekal untuk akhir hayatnya. Meninggalkan kecondongan atas kecintaan pada dunia inilah yang dinamakan zuhud.
Ingin mengenal lebih jauh tentang zuhud adalah melepaskan hati dari pengaruh dunia? Melansir dari beberapa sumber, Selasa (20/10/2020), simak ulasan informasinya berikut ini.
Zuhud Adalah
Melansir dari laman nu.or.id, zuhud adalah meninggalkan kecondongan atas kecintaan pada dunia. Zuhud juga bisa diartikan dengan melepaskan hati dari pengaruh dunia. Maksudnya adalah tidak kikir kepada para peminta dan tidak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan duniawi yang menyebabkan lupa akan Allah SWT. Meski begitu, zuhud juga tidak berarti kalian harus mengosongkan tangan dari harta.
"Allah dan Rasul-Nya tidak pernah melarang umatnya melakukan usaha untuk mendapatkan bagian di dunia. Tidak pernah seorang pun dilarang untuk melakukan hal tersebut," tegas Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung Gus Mubalighin Adnan saat menjelaskan makna zuhud berdasarkan Kitab Minahus Saniyah.
Tiga Makan Zuhud
Zuhud adalah melepaskan hati dari pengaruh dunia. Melansir dari laman muslim.or.id, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
©2013 Merdeka.com/Shutterstock/YanLev
Kesimpulannya, zuhud terhadap dunia dapat ditafsirkan dengan tiga pengertian yang kesemuanya merupakan amalan hati dan bukan amalan tubuh. Karenanya, Abu Sulaiman mengatakan,
لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ، فَإِنَّ الزُّهْدَ فِي الْقَلْبِ
"Janganlah engkau mempersaksikan bahwa seorang itu telah berlaku zuhud (Secara lahiriah), karena zuhud itu letaknya di hati".
Makna Zuhud Pertama
Zuhud adalah hamba lebih meyakini rezeki yang ada di tangan Allah SWT dibanding dengan apa yang ada di tangannya. Hal ini tumbuh dari bersih dan kuatnya keyakinan. Karena sesungguhnya Allah SWT telah menanggung serta memastikan jatah rezeki tiap hamba-Nya sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (٦)
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya". (Huud: 6). Dalam firman-Nya yang lain,
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (٢٢)
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu". (Adz Dzaariyaat: 22).
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ (١٧)
"Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia". (Ankabuut: 17). Al Hasan juga pernah mengatakan,
إِنَّ مِنْ ضَعْفِ يَقِينِكَ أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Allah adalah anda lebih meyakini apa yang ada di tangan daripada apa yang ada di tangan-Nya”.
Makna Zuhud Kedua
Zuhud adalah apabila hamba tertimpa musibah dalam kehidupan dunia seperti hilangnya harta, anak, dan lainnya. Maka mereka lebih senang memperoleh pahala atas hilangnya hal tersebut dibanding tetap berada di sampingnya. Rasa senang tersebut muncul juga dari sempurnanya rasa yakin terhadap Allah SWT.
©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Deklofenak
Di riwayatkan dari ‘Ibnu ‘Umar, Nabi SAW berkata dalam doa nya,
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini”. [HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). At Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan gharib”].
Doa tersebut juga merupakan tanda zuhud serta minimnya kecintaan kepada dunia. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali radhiallahu ‘anhu,
مَنْ زَهِدَ الدُّنْيَا، هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيبَاتُ
“Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya”.
Makna Zuhud Ketiga
Zuhud adalah hamba memandang sama orang yang memuji serta mencela nya saat berada di atas kebenaran. Ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, menganggap sebagai suatu yang remeh dan rendahnya kecintaan terhadap dunia. Sesungguhnya, setiap orang yang mengagungkan dunia akan cinta pada pujian serta benci pada celaan.
Tak jarang hal itu justru menggiringnya untuk tidak mengamalkan kebenaran. Sebab, takut celaan serta melakukan sejumlah kebatilan hanya karena ingin mendapat pujian. Dengan begitu, setiap orang yang memandang sama orang yang memuji dan mencela saat berada di atas, akan menunjukkan kedudukan yang dimilikinya tidak berpengaruh di dalam hatinya. Selain itu juga menunjukkan jika hatinya dipenuhi oleh rasa cinta akan kebenaran serta ridha kepada Allah SWT.
Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud,
الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ
“Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan”.