Unggah Soekarno Cium Ratna Sari Dewi, Sang Putri Sebut Bung Karno Dikudeta Militer
Kartika Sari Dewi, putri Soekarno, mengutarakan bahwa sang ayah benar telah dikudeta secara militer oleh Amerika Serikat dan Inggris.
Banyak klaim mengenai turunnya Presiden Soekarno dari jabatannya usai terjadi tragedi G30S/PKI pada tahun 1965. Banyak sejarawan hingga pengamat politik menilai bahwa Soekarno harus rela dikudeta oleh bangsa sendiri.
Hal tersebut tak lepas dari anggapan permainan politik melalui intrik yang disisipkan oleh berbagai pihak. Salah satu pihak yang dinilai berpengaruh saat itu adalah Amerika Serikat.
Kartika Sari Dewi, putri Soekarno bersama Ratna Sari Dewi pun angkat bicara. Perempuan yang kini aktif di bidang sosial dan kemanusiaan di Tanah Air tersebut mengutarakan bahwa sang ayah benar telah dikudeta secara militer oleh Amerika Serikat.
Terlebih, Ratna juga menjelaskan terdapat campur tangan pihak lain demi lancarnya aksi kudeta tersebut. Berikut ulasan selengkapnya.
Sebut Ayah Dipaksa Turun Jabatan
Melalui akun Instagram pribadinya, Kartika yang memiliki darah Jepang tersebut menuliskan bahwa Soekarno terpaksa turun dari jabatannya sebagai presiden lantaran kudeta. Aksi yang berkedok permasalahan internal tersebut ia sebut ditunggangi oleh Amerika Serikat dan Inggris. Ia menuliskan hal tersebut sembari membagikan foto kedua orangtuanya kala itu.
Instagram/@kartikasoekarnofoundation ©2020 Merdeka.com
"Sebuah kebahagiaan kecil ketika Ayah saya digulingkan dalam kudeta militer yang didukung Amerika dan Inggris pada tahun 1967," tulisnya.
Tanggapan tentang Amerika
Kartika menilai bahwa Amerika merupakan negara yang enggan membela kemerdekaan Indonesia kala itu. Pihak Negeri Paman Sam tersebut lebih memilih untuk tunduk dan mengikrarkan janjinya kepada Belanda, negara yang menebarkan kolonialisme di Ibu Pertiwi selama lebih dari 3 abad.
©2020 Merdeka.com
"Meskipun merupakan bekas jajahan sendiri, Amerika dengan enggan memihak pada kemerdekaan Indonesia. Kesetiaan mereka pertama kali kepada Belanda, bekas Sekutu mereka dalam Perang Dunia II," lanjutnya.
Anggap Amerika Hanya Setia untuk Bisnis
Kendati memiliki sikap yang baik kepada Indonesia, Kartika menyebut bahwa Amerika melakukan hal tersebut semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Bahkan, banyak partisipan dan penganut paham ‘kekirian’ yang akan dibantai oleh AS saat itu.
©blogspot.com
"Mereka mengalihkan kesetiaan mereka ke Indonesia tetapi hanya untuk melayani kepentingan bisnis Amerika dan untuk menempatkan kediktatoran militer sayap kanan yang menewaskan setidaknya satu juta warga sipil. Tidak peduli berapa banyak, selama mereka komunis mereka akan dibantai," paparnya.
Sebut Kekejaman AS Selama Perang Dingin
Tak hanya di Indonesia, AS dinilai Kartika sebagai negara yang anti komunisme. Mereka diklaim telah membunuh jutaan nyawa manusia melalui berbagai kebijakan luar negeri selama Perang Dingin yang terjadi pada tahun 1947 silam.
"Kebijakan luar negeri pemerintah AS selama Perang Dingin merupakan perpanjangan dari kolonialisme dan rasisme. Yang mereka sebut Perang Salib Anti Komunisme membunuh jutaan orang di Asia, Amerika Selatan, dan Tengah," imbuhnya.
©2016 merdeka.com
AS Melunak di Tubuh Partai Sosialis Eropa
Meskipun dinilai cukup anti sosialisme di negara-negara Asia, Amerika diklaim sebagai pihak yang melunak saat berhadapan langsung dengan negara di Eropa. Khususnya, negara yang menjunjung komunisme sebagai idealisme tertinggi.
"Tapi, AS toleran terhadap partai politik komunis dan sosialis Eropa ‘Saudara Putih Mereka’," pungkasnya.