Sidang Korupsi PM Israel Benjamin Netanyahu Dilanjutkan, Iran Singgung soal Penjara
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga membahas mengenai sidang kasus korupsi yang melibatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Persidangan kasus korupsi yang melibatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan dilanjutkan pada hari Minggu mendatang. Hal ini terjadi setelah pemerintah Israel mencabut status darurat yang sebelumnya diberlakukan akibat konflik dengan Iran.
Juru bicara pengadilan mengumumkan bahwa sistem peradilan kini beroperasi kembali secara normal, sehingga sidang akan berlangsung seperti biasanya dari hari Minggu hingga Rabu setiap pekan. Kembalinya proses hukum ini memicu berbagai spekulasi politik, terutama di tengah situasi keamanan yang masih belum sepenuhnya stabil.
Sejumlah pihak berpendapat bahwa dinamika perang yang terjadi di Israel dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah hukum yang dihadapi oleh Netanyahu, sekaligus memperlambat proses peradilan. Hal ini sebagaimana dikutip dari laman Times of Israel pada Jumat (10/4/2026).
Narasi tersebut semakin diperkuat dengan berakhirnya status darurat, yang sebelumnya menjadi salah satu faktor yang menghambat jalannya persidangan. Kini, dengan dimulainya kembali proses hukum, tekanan politik terhadap Netanyahu diperkirakan akan semakin meningkat.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga memberikan komentar mengenai perkembangan ini. Ia berpendapat bahwa penghentian konflik secara menyeluruh di kawasan dapat mempercepat proses hukum yang berpotensi mengarah pada pemenjaraan Netanyahu.
"Persidangan pidana Benjamin Netanyahu akan kembali dilanjutkan pada hari Minggu. Pemberlakuan gencatan senjata menyeluruh di kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat proses yang mengarah pada pemenjaraannya," ujar Araghchi.
Sikap Amerika Serikat Dikritik
Ia juga memberikan kritik terhadap kemungkinan sikap yang diambil oleh Amerika Serikat, yang dinilai dapat memperpanjang konflik yang sedang berlangsung. Menurutnya, dukungan terhadap tindakan Netanyahu berisiko merusak jalur diplomasi yang ada dan dapat berdampak negatif pada stabilitas ekonomi negara tersebut.
"Jika Amerika Serikat memilih merusak perekonomiannya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, maka itu sepenuhnya menjadi konsekuensi dari pilihannya. Kami menilai langkah tersebut sebagai tindakan yang tidak bijaksana, namun kami siap menghadapi segala dampaknya," tambahnya.
Situasi ini menempatkan Netanyahu dalam posisi yang sulit, di mana ia harus menghadapi proses hukum yang kembali berjalan, sementara pada saat yang sama memimpin negara di tengah konflik regional yang rumit. Dalam konteks ini, beberapa analis berpendapat bahwa ada kepentingan politik bagi Netanyahu untuk mempertahankan kondisi konflik, yang berpotensi memperlambat tekanan domestik yang dihadapinya.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada bukti konkret yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara kebijakan militer Israel dan upaya untuk menghindari proses hukum. Namun, berlanjutnya konflik tetap dianggap sebagai faktor penting yang dapat memengaruhi arah politik domestik Israel dalam waktu dekat.