Potret Tempat Tidur Raja Yogyakarta, di Bawahnya Ada Tempat Pembakaran Arang Supaya Hangat 'Dulu Tidak ada Kasur'
Potret Tamasari tempat peristirahatan raja di Yogyakarta pada zaman dulu.
Taman Sari Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang cukup populer di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kompleks ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I pada 1758 M, dan diperuntukkan sebagai kompleks peristirahatan serta rekreasi bagi Sultan dan keluarganya. Taman Sari juga berfungsi sebagai tempat peribadatan.
Hingga kini, masyarakat masih bisa melihat bangunan sejarah pada zaman dulu itu. Termasuk tempat tidur yang dulunya digunakan oleh Raja Yogyakarta. Simak ulasan selengkapnya:
Tempat Tidur Sultan
Melansir dari unggahan di kanal Youtube TIYANG DUSUN, membagikan video merekam potret beberapa ruangan pribadi milik raja Yogyakarta yang dulu digunakan, termasuk tempat tidur.
Di Tamansari tempat tidur raja memiliki desain unik, terbuat dari beton dan terletak di bangunan yang dulunya berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan saat berada di Tamansari.
"Ini tempat tidurnya, kalau zaman dulu enggak ada kasur enggak ada busa. Atasnya dulu (pakai) kulit binatang kalau lantai saja kan keras jadi pakai kulit binatang itu. Ini lubang (di bawah) untuk perapian untuk menghangatkan," kata pemandu wisata dalam video.
Di bawah tempat tidur terdapat tiga lubang mirip tunggu yang dulu disebut dipakai untuk menyalakan api kecil sebagai metode penghangat ruangan sekaligus mengusir nyamuk.
Bangunan yang menampung tempat tidur disebut Ledoksari, ini adalah bangunan pertama yang dibangun Sultan Hamengku Buwono I di kompleks Tamansari. Di tempat itulah Sultan beristirahat jika sedang berada di Tamansari.
Selain Ledoksari, di kompleks Tamansari juga terdapat bangunan menara yang dulunya hanya bisa dinaiki oleh Sultan, tempat ganti pakaian dan beristirahat bagi putri dan istri raja, serta kolam pemandian.
Tentang Tamansari
Dikutip dari Kratonjogja.id, Tamansari berarti taman yang indah. Situs ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan 57 bangunan di dalamnya. Bangunan-bangunan tersebut berbentuk gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.
Taman ini dijuluki Water Kasteel karena kolam-kolam dan unsur air yang mengelilinginya. Disebut juga sebagai The Fragrant Garden karena pohon-pohon dan bunga-bunga yang harum ditanam di kebun-kebun sekitar bangunan.
Selain difungsikan sebagai tempat rekreasi, nampaknya Tamansari juga memiliki fungsi pertahanan dan fungsi religi. Fungsi pertahanan tampak pada tembok keliling yang tebal dan tinggi.
Kemudian gerbang yang dilengkapi tempat penjagaan, dan bastion atau tulak bala sebagai tempat menaruh persenjataan. Selain itu terdapat beberapa urung-urung atau jalan bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain.
Fungsi religi ditunjukkan dari adanya bangunan Sumur Gumuling dan Pulo Panembung. Sumur Gumuling yang berbentuk melingkar difungsikan sebagai masjid, sedangkan Pulo Panembung digunakan oleh Sultan sebagai tempat untuk bermeditasi.
Kedua bangunan ini berada di tengah kolam Segaran, tampak menyembul di tengah bentangan air yang luas. Pada 1867, di masa pemerintahan Sri Sultan HB VI, terjadi peristiwa gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan di Jogja.
Termasuk komplek bangunan Tamansari mengalami kerusakan yang cukup parah dan menjadi terbengkalai. Dari waktu inilah banyak penduduk yang kemudian membangun hunian di antara bekas kebun dan puing bangunan.
Renovasi secara serius baru dimulai 1977. Beberapa bangunan yang tertimbun dibongkar. Namun hanya sedikit sekali bagian dari bangunan Tamansari yang bisa diselamatkan.