Potret Mesra Dedi Mulyadi dengan Ono Surono Salam Komando Sambil Terseyum Jadi Sorotan
Momen akrab Dedi Mulyadi dan Ono Surono jadi tanda damai keduanya di Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PDIP, Ono Surono 'akhirnya' berdamai dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Demul) setelah aksi Walk Out dilakukan oleh sejumlah anggota Fraksi PDIP sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Dedi Mulyadi yang dianggap menyinggung DPRD Jawa Barat.
Keduanya tampak kembali 'mesra' saat bertemu di Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat pada Kamis (22/5) siang.
Meski sempat terlibat perselisihan, kedua tokoh masyarakat tersebut justru terlihat akrab satu sama lain. Bahkan ia dan beberapa anggota DPRD lain saling melempar candaan hingga tertawa bersama.
Seperti saat Penandatanganan Persetujuan Bersama dan Berita Acara, Demul dan Ono Surono sempat salam komando sebagai bentuk damai di antara keduanya.
Jabat tangan keduanya pun langsung mendapat sambutan riuh dari para anggota dewan lainnya. Dedi juga sempat memberikan candaan kepada Ono saat memberikan sambutan di rapat tersebut.
“Tokoh spektakuler kita yang sangat populer di antara politisi DPRD Provinsi Jawa Barat, Bapak Ono Surono."
"Saya sudah tahu Pak Ono, kontrak-kontrak medianya nanti sudah banyak ke depan,” kata Demul.
Mendapat candaan itu, Ono Surono beserta anggota DPRD Provinsi Jabar lainnya terlihat tertawa lepas.
Tersinggung Dedi Mulyadi
Sebelumnya aksi Walk Out (WO) dilakukan oleh anggota DPRD Jawa Barat Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) saat rapat paripurna DPRD Jawa Barat (Jabar), Jumat, 16 Mei 2025.
Perwakilan fraksi PDIP merasa tersinggung dengan ucapan Gubernur Dedi Mulyadi yang dinilai merendahkan anggota dewan saat hadiri Musrenbang di Cirebon pada 7 Mei 2025 lalu.
Dalam pidatonya yang sempat diunggah akun YouTube Lembur Pakuan Channel, Dedi Mulyadi menyentil DPRD dalam beberapa konteks, terutama penertiban bangunan di daerah aliran sungai.
“Kalau saya bongkar bangunan di pinggir sungai, kebayang kalau saya diskusi dulu sama DPRD, tidak akan pernah terbongkar Pak," katanya.
“Karena DPRD ada konstituennya di situ, ada Partai A, Partai B, Partai C, diskusinya berhari-hari, nanti aspirasi berkembang, bangunan tidak dibongkar, ribut tidak berhenti. Makanya saya pilih bongkar sendiri, kenapa? Agar Bapak tidak cacat, tidak pusing menghadapi konstituen,” tegasnya.
Buntut ucapan tersebut, dua anggota Fraksi PDIP yakni Doni Maradona Hutabarat dan Memo Hermawan mengajukan protes terhadap tindakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dianggap tidak membutuhkan peran DPRD Provinsi.
“9 hari yang lalu, Gubernur di acara yang saya anggap sakral, di acara Musrenbang, ada pernyataan Gubernur yang menurut saya ini perlu kita sikapi bahwa saya berpikiran beliau mendiskreditkan lembaga DPRD Provinsi Jawa Barat dan mungkin menurut saya juga mendiskreditkan masing-masing anggota DPRD Provinsi," kata Doni.
Doni tidak menjelaskan secara jelas pernyataan Dedi Mulyadi yang dinilai merendahkan tersebut. Namun ia menyebut bahwa Demul tidak membutuhkan pendapat dari anggota DPRD.
“Saya menyimpulkan dari pernyataan itu Gubernur ini sepertinya tidak membutuhkan pendapat dari teman-teman anggota DPRD,” katanya.
Aksi Walk Out Fraksi PDIP
Anggota DPRD Jawa Barat Fraksi PDIP lain, Memo Hermawan ikut bersuara. Ia menyebut perlu adanya perbaikan hubungan antara eksekutif dan legislatif agar terlihat harmonis.
“Izin pimpinan. Saya melihat seharusnya legislatif dan eksekutif berbarengan lah, saling isi mengisi, saling meperkuat, tapi beberapa bulan ini ada suara-suara yang kurang enak juga, kita saling merendahkan, saya meminta perbaiki kehormatan marwah DPRD ini supaya hubungan yang harmonis,” katanya.
Lebih lanjut, Memo menyerukan agar seluruh anggota Fraksi PDIP untuk walk out, termasuk Wakil Ketua Ono Surono.
“Saya meminta sebagai kehormatan dan marwah DPRD ini untuk rapat paripurna hari ini, saya meminta seluruh Fraksi PDI Perjuangan untuk tidak ikut atau walk out, termasuk Bapak Ono Surono," sambungnya.
Usulan tersebut langsung mendapat dukungan dari anggota lain yang berdiri dan langsung pergi meninggalkan ruangan.