Mengenal Delta Varian Baru Covid-19, Virus yang Tercepat dan Terkuat
Kasus terinfeksi virus Covid-19 dilaporkan masih bertambah. Didominasi oleh varian jenis baru, Delta. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Covid-19 telah bermutasi menjadi sepuluh. Empat di antaranya ditemukan pada pasien di tanah air, yakni B.117 (Alpha), B.1351 (Beta), B.1.617.2 (Delta), dan AY.1.
Kasus terinfeksi virus Covid-19 dilaporkan masih bertambah. Didominasi oleh varian jenis baru, Delta. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Covid-19 telah bermutasi menjadi sepuluh. Empat di antaranya ditemukan pada pasien di tanah air, yakni B.117 (Alpha), B.1351 (Beta), B.1.617.2 (Delta), dan AY.1 (Delta Plus).
Perhatian utama saat ini ialah Delta. Di mana jenis virus SARS-CoV-2 yang sangat menular. Pertama kali teridentifikasi di India pada bulan Desember 2020.
Dari yang diketahui tim medis sejauh ini, vaksinasi terhadap virus corona tampaknya memiliki perlindungan terhadap Delta. Sekaligus mempraktikan protokol kesehatan secara disiplin. Demi meminimalisir risiko terinfeksi oleh varian baru.
Berikut lima hal penting yang patut diketahui mengenai varian Delta, seperti dilansir dari Yale Medicine.
1. Delta Lebih Menular
Dibandingkan varian Covid-19 terbaru lainnya, Delta atau B.1.617.2 menyebar dengan cepat. Bahkan Kementerian Kesehatan mencatat jenis Delta cenderung ditemukan pada pasien di bawah 18 tahun.
Guru Besar Virologi dan Molekuler Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika angkat suara terkait penyebaran varian Covid-19. Delta jadi yang patut diperhatikan serius.
"Bagi saya varian yang benar-benar dipelototi mestinya varian Delta. Karena data beberapa hari lalu 85 persen virus dunia yang saat ini bersirkulasi diidentifikasi sebagai varian Delta," katanya kepada Merdeka.com, Rabu (14/7).
2. Tidak Divaksinasi Berisiko Tertular Delta
Bagi yang belum sepenuhnya menerima vaksin Covid-19 dinilai paling berisiko tertular varian baru Delta. Karena vaksin akan memicu respons antibodi yang terhadap varian Delta.
Apalagi melihat kondisi bahwa Delta tercatat lebih tinggi kasusnya dibanding varian Kappa dan lainnya.
Anak-anak dan remaja juga menjadi perhatian. Meski sejauh ini belum ada vaksin Covid-19 yang disetujui untuk anak-anak usia 5 hingga 12 tahun. Studi mencatat, anak-anak dan orang dewasa di bawah 50 berisiko 2,5 kali lebih mungkin terinfeksi Delta.
"Bukti dia (varian Delta) menyebar dengan cepat di berbagai negara dan seolah-olah menekan populasi varian yang lain. Varian Delta yang bagi saya patut dipelototi," lanjutnya.
3. Delta dapat Menyebabkan 'Wabah Hiperlokal'
Jika varian Delta terus bergerak untuk mempercepat pandemi, tanpa ada penanggulangan bisa mudah berpindah ke kota lain.
Dalam beberapa kasus, wilayah dengan vaksinasi rendah yang dikelilingi oleh daerah vaksinasi tinggi. Bisa berakhir dengan virus yang tertinggal dalam perbatasan dan hasilnya bisa menjadi "wabah hiperlokal".
Namun jika program vaksinasi berjalan lancar atau adanya kekebalan alami, peningkatan kasus bisa dikompresi dalam periode waktu yang lebih singkat.
4. Varian Delta Masih Terus Diselidiki
Delta termasuk studi dari Skotlandia yang menunjukkan sekitar dua kali lebih mungkin terjadi daripada Alpha. Terutama bagi yang belum menerima vaksin.
Meski begitu, varian ini masih akan terus dipelajari oleh para ahli. Sementara, seperti diketahui varian Delta sendiri telah bermutasi menjadi Delta Plus alias AY.1.
Gejala yang umunya terjadi sekitar 90 persen dialami, berupa batuk, sakit kepala, kehilangan indera penciuman, sakit tenggorokan, pilek, dan demam.
5. Vaksinasi jadi Perlindungan Terbaik Terhadap Delta
Hal terpenting yang dapat kita lakukan saat ini ialah dengan melindungi diri. Baik dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Sekaligus mendapatkan vaksin Covid-19 dua dosis.
Meski ada sejumlah orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin. Tapi dengan kondisi lingkungan yang dominan warganya sudah divaksin, maka mengubah kalkulus risiko.
(mdk/kur)