Lasmi Sulastri Sinden Legenda Internasional, Miris Kini Hidup Sendiri & jadi Pengamen
Wanita berusia 61 tahun itu, kini tinggal sendiri di Desa Kropak, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah. Simak kisah pilu Lasmi Suami saat ini, yang hidup sendiri dan jadi pengamen.
Siapa tak kenal Lasmi Sulastri. Meski namanya telah meredup, namun jejak seninya masih dirasa hingga saat ini. Lasmi merupakan seorang ledek atau penari sekaligus penyanyi kesenian tradisional legendaris.
Sejak usia belia, Lasmi sudah sekian kali melakukan pertunjukkan ke berbagai kota. Bahkan diundang ke kancah dunia untuk mementaskan seni Jawa. Ketenarannya mulai pudar semenjak Lasmi menjadi korban suntik silikon.
Wanita berusia 61 tahun itu kini tinggal sendiri di Desa Kropak, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah. Simak kisah pilu Lasmi Suami.
Berkarier jadi Seniman Sejak Remaja
kanal YouTube Ganjar Pranowo ©2021 Merdeka.com
Nama Lasmi Sulastri bersinar di era 1980-an. Ia mulai berkiprah di dunia seni sejak usia 15 tahun. Masih terbilang belia, Lasmi sudah bisa menjadi Sinden di acara besar. Baik untuk keliling desa, kota bahkan ke negeri tetangga.
"Njih kesenian Jawi, rumiyin awale Sinden Karawitan ning deso, umur 15 riyin. Terus nyinden wayang, terus nderek Kethoprak sekedap. Ba'do niku nglairke anak kula yuswa 19 tahun," kata Lasmi seperti dikutip dari kanal YouTube Ganjar Pranowo.
(iya kesenian Jawa, dulu awalnya Sinden Karawitan di desa usia 15 tahun. Terus Sinden Wayang, lalu ikut Kethoprak sebentar. Setelah itu saya melahirkan anak di usia 19 tahun)
Melestarikan Kesenian Selama 41 Tahun
kanal YouTube Ganjar Pranowo ©2021 Merdeka.com
Lasmi sudah berusaha melestarikan budaya dan seni Jawa selama 41 tahun. Hingga kini pun suara merdu dan nyaring khas Sinden masih begitu kentara terdengar.
Zaman dulu, gaji pertama kali sebagai Sinden sudah termasuk mahal. Pentas bertiga saja, bisa meraup Rp15 ribu yang nantinya dibagi rata. Hal itu Lasmi tekuni sampai mengaku tak pernah sepi panggilan, bahkan di malam hari.
"Kula saget joget pak. Kula nguri-nguri budaya Jawi sampun sekawan dhoso setunggal taun pak. Sinden, Kethoprak, Tayub. Riyen dibayar limolas ewu wes mbeto tigo, didom cah telu. Kula paling gedeh. Mboten nate prei pak kula, lima sasi main terus, niku rino wengi nganti serak. Kula njih nate rekaman kaset pak," ujar Lasmi.
(saya bisa menari pak. Saya sudah melestarikan kebudayaan Jawa sudah 41 tahun pak. Dulu dibayar Rp15 ribu membawa tiga personel, dibagi bertiga. Tapi saya paling banyak. Enggak pernah libur, pernah lima bulan sampai malam dan suara serak. Saya juga pernah rekaman kaset pak)
Tak Pernah Terima Royalti
Kanal YouTube Buana Channel, Lasmi Bersama FORKAPI ©2021 Merdeka.com
Cukup miris mengetahui kondisi Lasmi saat ini. Sekian tahun ia belum merasakan keuntungan dari hak paten terhadap hasil karyanya. Meski sudah banyak kaset rekaman dihasilkan. Saat ini pun kasetnya masih dijual bebas, menjadi barang langka dan antik.
"Mboten genah kula. Niku sing jalanke bojone kula e pak. Garwane pun pedhot, sak niki dadi Lurah Tambakrejo pun dangu," papar Lasmi.
(enggak paham pak. Itu yang menjalankan suami saya pak. Suami saya sudah cerai, sekarang ini dia jadi Lurah Tambakrejo sudah lama)
Hidup Sendiri di Rumah Sederhana
Rumah Lasmi, Kanal YouTube Buana Channel ©2021 Merdeka.com
Kehidupan Lasmi seakan berbalik cukup drastis. Dulu namanya melambung. Tapi harus anjlok sejak periasnya dulu mengajak untuk melakukan suntik silikon.
Lasmi dirayu bila menjadi artis harus memiliki hidung mancung dan dagu indah. Setelah itu tak sedikit hartanya digunakan untuk menjalani pengobatan. Kini ia hidup sendiri di rumah sederhananya. Anak semata wayangnya acap kali bertandang.
"Mendadak banget, anak kula pun tindakan. Kula ting riki piyambakan pak. Wong nembe wae kula ditinggal mbok e kula," ungkapnya.
(saya di sini sendirian pak. Kan ibu saya belum lama ini meninggal)
Jadi Pengamen Keliling, Disarankan jadi Penulis Lagu
Kanal YouTube Buana Channel, Lasmi Bersama FORKAPI ©2021 Merdeka.com
Demi mencukupi kebutuhan hidup, Lasmi sehari-hari memilih jadi pengamen. Saat ini masih banyak penggemar seusianya yang minta dinyanyikan lagu Karawitan zaman dulu. Sesekali Lasmi diundang ke acara di sekitar lingkungan rumah.
"Nggih sak wontene, kula ngamen ning pasar-pasar. Ngagem niki (sound) nyanyine. Niku njerone tak wenehi aki motor ben kersane awet pak. Poso mboten ngamen pak, kan wonten putra kula sok mrene," pungkasnya.
(ya kerja seadanya, saya ngamen di pasar. Pakai sound ini. Itu di dalamnya saya beri aki motor supaya tahan lama pak. Puasa ini tidak ngamen, kan ada anak saya yang suka ke sini)
"Jenengan ampun kalah kalih sing enom-enom. Ngarango lagu, dirungokke, ndelok YouTube utawa nglebokke ning YouTube dhewe. Ngono muter terus," saran Ganjar.
(Anda jangan sampai kalah sama yang muda-muda. Mengarang lagu, didengarkan, sama lihat di YouTube atau dimasukkan di YouTube sendiri. Gitu terus berputar)