Kisah Mbah Marijun & Solihin Dulu Nyaris Tewas Ditembak Belanda, Kini Hidup Prihatin
75 tahun telah berlalu, siapa sangka perjuangannya terdahulu bukan menjadi akhir.
Indonesia baru saja memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-75. Hari di mana para pejuang berhasil merebut kembali tanah Air. Butuh pengorbanan besar untuk bisa memerdekakan Indonesia. Para pejuang harus siap hilang harta dan hilang nyawa.
75 tahun telah berlalu, siapa sangka perjuangannya terdahulu bukan menjadi akhir. Kini, masih banyak pejuang kemerdekaan yang harus berjuang kembali untuk menjalani kehidupannya. Termasuk dengan Mbah Marijun dan Solihin.
Penasaran dengan kisah para pejuang kemerdekaan Mbak Marijun dan Solihin? Melansir dari laman resmi kitabisa.com, Selasa (18/7/2020), simak ulasan informasinya berikut ini.
Mbah Marijun Pejuang Pasukan PETA
Kisah pertama datang dari Mbah Marijun. Pria kelahiran Merbau Mataram, Lampung Selatan ini merupakan seorang pejuang pasukan PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1942.
kitabisa.com ©2020 Merdeka.com
"Dulu ia ditugaskan berperang dari Yogyakarta sampai Jawa Timur," tulisnya dalam lama resmi Kita Bisa.
Siap Hilang Senjata dan Nyawa
Mbak Marijun kini sudah berusia 102 tahun. Beliau pun sudah sulit berbicara dan pendengarannya melemah. Akan tetapi, sebelum kesulitan bicara Mbah Marijun kerap kali menceritakan masa perjuangannya.
“Dulu waktu ngomongnya masih lancar, bapak selalu bilang zaman dulu waktu bela negara harus siap hilang senjata, hilang nyawa. Malam jadi siang, siang jadi malam," ungkap istri Mbah Marijun.
Bambu Runcing Jadi Andalannya
Sudah menjadi rahasia umum, para pejuang hanya bisa mengandalkan senjata bambu runcing saat melawan penjajah. Hal ini rupanya juga dialami oleh Mbah Marijun.
kitabisa.com ©2020 Merdeka.com
"Senjata yang dipakai cuma bambu runcing, padahal penjajah pakai senjata api. Kalau ada kawan yang gugur harus tega tinggal dan terus jalan," sambungnya.
Tetap Gendong Mayat Temannya
Akan tetapi, Mbah Marijun tetap ingin menggendong jenazah temannya yang telah gugur terlebih dahulu. Mbah Marijun dan rekannya rela memikul jenazah sepanjang jalan sambil menahan tangis.
"Tetapi, bapak pernah memohon untuk tetap gendong temannya biar pun jadi mayat. Kita berdua datang sama-sama untuk berjuang. Saya pulang dia juga harus pulang, begitu kata bapak," tutupnya.
Kisah Mbah Solihin
Kisah kedua datang dari Mbah Solihin. Seorang pejuang perang pada tahun 1944 di Yogyakarta dan Bandung. Kini, Mbah Solihin sudah berusia 95 tahun. Alih-alih lupa, memori akan masa perjuangan masih begitu jelas terekam di ingatannya.
kitabisa.com ©2020 Merdeka.com
“Modal perang cuma badan dan bambu runcing di tangan kanan. Setiap hari tidur di antara padi-padi biar enggak ketahuan penjajah," cerita Mbah Solihin.
Hanya Mbah Solihin yang Selamat
Masa perjuangan Mbah Solihin tak kalah pilu nya. Mbah Solihin dan ketiga temannya diakui sempat terkena tembakan dari penjajah. Sayang, ketiga temannya harus gugur dan hanya menyisakan Mbah Solihin seorang.
"Saya doa pada Allah, semoga anak istri selamat, semoga Indonesia menang. Sempat saya dan ketiga kawan terkena senapan penjajah. Kedua teman gugur, cuma saya yang selamat,” tutupnya.
Tak Pernah Disebut dalam Buku Sejarah
Memang, masih banyak kisah pilu para pejuang yang ikut membela Tanah Air. Namun, nama mereka tak pernah disebutkan saat generasi muda belajar sejarah. Hanya nama-nama pemimpin mereka yang kerap kali terdengar di telinga.
kitabisa.com ©2020 Merdeka.com
Padahal, ada ratusan pejuang yang berada di balik punggung para pemimpi pasukan perang. Mereka dengan berani berangkat dan tanpa berpikir untuk bisa pulang dalam keadaan selamat.
Hidup Memprihatinkan
Sayang, masih banyak para pejuang yang kini hidup susah. Hal ini karena nama-nama mereka tak terdengar di telinga masyarakat. Termasuk Mbah Marijun dan Mbah Solihin.
Hingga usia renta, mereka harus kesulitan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, rekan pejuang lainnya ada yang hidup di jalanan tanpa memiliki bilik rumah.