LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TRENDING

Gejala Epilepsi yang Tak Boleh Disepelekan, Pahami Pula Faktor Risiko dan Diagnosis

Gejala epilepsi tak boleh dianggap remeh. Sebab apabila tak segera mendapatkan bantuan medis akan menimbulkan dampak yang bahaya pula bagi kesehatan.

2022-09-20 11:36:00
Penyakit Epilepsi
Advertisement

Gejala epilepsi tak boleh dianggap remeh. Sebab apabila tak segera mendapatkan bantuan medis akan menimbulkan dampak yang bahaya pula bagi kesehatan.

Penyakit epilepsi juga dikenal sebagai penyakit ayan. Ini adalah kondisi yang bisa menjadikan seseorang mengalami kejang secara berulang. Epilepsi akan menyerang seseorang ketika terjadi kerusakan atau perubahan di dalam otak.

Perlu Anda ketahui jika di dalam otak setiap manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Tiap sel tersebut saling berkomunikasi menggunakan impuls listrik, sementara pada kasus epilepsi impuls listriknya ini diproduksi secara berlebihan sehingga menyebabkan perilaku penderita tak dapat dikendalikan.

Advertisement

Beberapa gejala epilepsi perlu dipahami, berikut ulasan selengkapnya yang berhasil dirangkum dari Halodoc, Selasa (20/9).

Gejala Epilepsi

Gejala epilepsi merupakan salah satu hal yang tak boleh dianggap remeh. Kejang yang berulang adalah tanda utama dari seseorang mendapati epilepsi dengan karakteristik yang bervariasi dan memang tergantung pada bagian otak yang terganggu pertama kalinya.

Advertisement

Ada sebanyak 2 jenis kejang dalam gejala epilepsi yaitu kejang parsial dan kejang umum. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:

Kejang Parsial

Kejang Parsial simpel merupakan kejang yang pengidapnya tak kehilangan kesadaran. Gejala epilepsi ini berupa tubuh yang menyentak atau timbul sensasi kesemutan dan pusing dan kilatan cahaya. Bagian tubuh yang mengalami kejang bisa tergantung pada bagian otak mana yang mengalami gangguan. Contohnya adalah epilepsi yang mengganggu fungsi otak yang mengatur gerakan tangan atau kaki. Kejang parsial ini juga bisa membuat penderitanya mengalami perubahan emosi yang tiba-tiba senang gembira atau takut secara tiba-tiba.

Kejang Parsial Kompleks yaitu kejang yang terkadang memengaruhi kesadaran pengidap. Ini akan membuatnya terlihat seperti bingung atau setengah sadar selama beberapa saat. Itu yang dinamakan kejang parsial kompleks dengan ciri-ciri kejang pandangan kosong, menelan, mengunyah atau menggosok-gosokkan tangan.

Kejang Umum

- Mata yang terbuka saat kejang.
- Kejang tonik. Tubuh yang menjadi kaku selama beberapa detik. Ini bisa diikuti dengan gerakan-gerakan ritmis pada lengan dan kaki atau tidak sama sekali. Otot-otot pada tubuh terutama lengan, kaki, dan punggung berkedut.
- Kejang atonik, yaitu otot tubuh tiba-tiba menjadi rileks, sehingga pengidap bisa jatuh tanpa kendali.
Kejang klonik, yaitu gerakan menyentak ritmis yang biasanya menyerang otot leher, wajah dan lengan.
- Tekadang, pengidap epilepsi mengeluarkan suara-suara atau berteriak saat mengalami kejang.
- Mengompol.
- Kesulitan bernapas untuk beberapa saat, sehingga badan terlihat pucat atau bahkan membiru.
- Dalam beberapa kasus, kejang menyeluruh membuat pengidap benar-benar tidak sadarkan diri. Setelah sadar, pengidap terlihat bingung selama beberapa menit atau jam.

Faktor Risiko

Ada beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan risiko terkena epilepsi yaitu antara lain sebagai berikut:

Penyebab Epilepsi

Penyebab epilepsi dibagi menjadi dua yaitu epilepsi idiopatik dan simptomatik. Epilepsi bisa mulai diidap pada usia kapan saja dan umumnya kondisi ini terjadi sejak kanak-kanak.

Epilepsi idiopatik adalah epilepsi primer yang merupakan jenis epilepsi yang disebabkan oleh penyebab yang tak diketahui. Sejumlah ahli menduga jika ini adalah kondisi faktor genetik atau keturunan.

Sementara epilepsi simptomatik disebut sebagai epilepsi sekunder yang merupakan jenis epilepsi dengan penyebab yang bisa diketahui. Sejumlah faktor seperti luka berat di kepala, tumor otak, dan juga stroke bisa menyebabkan epilepsi sekunder.

Diagnosis

Beberapa tes dilakukan dokter untuk menentukan diagnosis epilepsi, mulai dari:

- cara berjalan.
- otot.
- kepekaan.
- kemampuan berpikir.
- EEG atau elektroensefalogram. Tes EEG dilakukan untuk mengetahui masalah aktivitas listrik yang ada di otak.
- Tes darah. Tes ini untuk mengetahui tanda infeksi dan masalah kesehatan lain.

(mdk/bil)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.