Drone Murah Iran Bikin AS Boncos, Biaya Menjatuhkannya 60 Kali Lebih Mahal
Walaupun harganya rendah, drone buatan Iran dianggap sangat efektif.
Amerika Serikat (AS) saat ini menguasai ruang udara di atas Iran. Namun, dalam konteks konflik yang melibatkan penggunaan drone murah, perhitungan biaya tidak selalu menguntungkan bagi Washington.
Iran memanfaatkan drone berbiaya rendah untuk melancarkan serangan presisi di Timur Tengah, sementara AS dan sekutunya harus mengandalkan sistem pertahanan udara yang jauh lebih mahal untuk menghadapi ancaman tersebut.
Meskipun sistem pertahanan udara milik AS dan sekutunya mampu mencegat sebagian besar rudal balistik dan drone Iran, teknologi pencegat yang digunakan sangat canggih dan mahal.
Arthur Erickson, CEO dan salah satu pendiri perusahaan pembuat drone Hylio yang berbasis di Texas, menjelaskan bahwa biaya untuk menembak jatuh sebuah drone jauh lebih tinggi dibandingkan biaya untuk menerbangkannya.
"Menjatuhkan sebuah drone jelas lebih mahal daripada menerbangkan drone itu sendiri," ungkap Erickson seperti yang dilansir oleh NY Times.
"Ini pada dasarnya permainan biaya. Rasio biaya per tembakan untuk pencegatan setidaknya 10 banding 1, tetapi bisa juga mencapai 60 atau 70 banding 1, yang berarti jauh lebih menguntungkan bagi Iran," ujarnya.
Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone sekali pakai sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Meskipun kawasan Timur Tengah dilindungi oleh sistem pertahanan udara bernilai miliaran dolar, sejumlah drone tetap berhasil mencapai sasaran.
Situasi ini menimbulkan tantangan besar, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di seluruh dunia. Di era di mana drone serangan dapat diproduksi dengan biaya rendah, sementara sistem pertahanan untuk menghentikannya sangat mahal, beban biaya ini berpotensi menjadi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.
Mengapa Drone Iran Begitu Efektif?
Drone Shahed yang diproduksi Iran adalah munisi berkeliaran berbentuk segitiga dengan panjang sekitar 11 kaki. Drone ini mengeluarkan suara keras yang mirip dengan mesin pemotong rumput saat terbang dan dilengkapi dengan bahan peledak di bagian hidungnya yang akan meledak saat mengenai sasaran.
Ukurannya yang relatif kecil memungkinkan drone ini diluncurkan dari belakang sebuah truk, sehingga mudah disembunyikan dan sulit dilacak oleh musuh.
Varian jarak jauh dari drone Shahed, yang dikenal sebagai Shahed-136, memiliki jangkauan sekitar 1.931 kilometer. Jarak ini memungkinkannya untuk mencapai berbagai target di seluruh kawasan Timur Tengah.
Informasi ini disampaikan oleh Stacie Pettyjohn, peneliti senior dan direktur program pertahanan di lembaga pemikir Center for a New American Security yang berlokasi di Washington.
Biaya Pembuatan Drone Iran
Drone Shahed dirakit dengan menggunakan komponen elektronik yang mudah ditemukan di pasaran. Menurut Pettyjohn, biaya untuk memproduksi satu unit drone ini diperkirakan antara USD 20.000 hingga 50.000, setara dengan Rp337 juta hingga Rp844 juta, tergantung pada jenis model yang dipilih.
Rusia bahkan telah memproduksi versi drone Shahed secara massal untuk digunakan dalam konflik melawan Ukraina. Diperkirakan, Iran telah memproduksi ribuan unit drone tersebut.
Berapa Biaya untuk Menetralisir Drone Iran?
Salah satu sistem pertahanan rudal yang paling canggih adalah sistem pertahanan udara Patriot. Sistem ini menggunakan rudal pencegat yang biayanya dapat mencapai lebih dari USD 3 juta atau sekitar Rp50,65 miliar untuk setiap tembakan, dan jumlahnya juga terbatas.
Sebagai gambaran, perusahaan Lockheed Martin pada tahun 2025 hanya mampu mengirimkan 620 unit rudal pencegat PAC-3, yang merupakan jumlah tertinggi yang pernah diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (4/3), mengakui bahwa pemerintah AS telah menerjunkan berbagai sistem untuk melawan drone tanpa memperhitungkan biaya.
"Kami telah mengerahkan semua sistem kontra-drone ke garis depan tanpa menghemat biaya," ujar Hegseth, yang mengakui sulitnya menghitung biaya dalam usaha pencegatan yang efektif.
Apakah Ada Cara Lebih Murah untuk Menghadapi Serangan Drone?
Militer AS juga memanfaatkan beberapa teknologi penanggulangan drone yang lebih terjangkau. Salah satunya adalah sistem Coyote yang dikembangkan oleh Raytheon, yang meluncurkan drone khusus untuk memburu dan menghancurkan drone lainnya. Menurut laporan dari Center for a New American Security, biaya untuk setiap pencegat Coyote diperkirakan sekitar USD 126.500 atau sekitar Rp2,1 miliar.
Meskipun jauh lebih murah dibandingkan rudal PAC-3, harganya tetap beberapa kali lipat lebih mahal dibandingkan drone Shahed. Riki Ellison, ketua dan pendiri organisasi Missile Defense Advocacy Alliance, menyatakan bahwa militer AS berusaha untuk menggunakan metode pencegatan dengan biaya serendah mungkin sesuai dengan kebutuhan operasional.
"Mereka mencoba menggunakan 'peluru' termurah yang dapat menyelesaikan tugas yang diperlukan," kata Ellison.
Selain itu, terdapat berbagai sistem lain yang dapat mengganggu atau melumpuhkan drone. Beberapa sistem ini bekerja dengan mengacaukan frekuensi radio yang digunakan untuk navigasi drone, sementara yang lainnya memanfaatkan gelombang mikro atau laser untuk merusak perangkat drone atau mengalihkan jalurnya.
Umumnya, sistem-sistem tersebut lebih terjangkau dibandingkan rudal pencegat, meskipun tingkat keberhasilannya bervariasi. Beberapa di antaranya juga berpotensi mengganggu kehidupan sipil.
Ukraina Telah Mengalami Serangan Drone yang Signifikan
Di Ukraina, strategi yang digunakan untuk menghadapi ancaman drone perlu terus diperbarui agar dapat mengikuti perubahan taktik serangan yang dilakukan oleh Rusia. Pasukan Ukraina bahkan memanfaatkan metode sederhana seperti jaring ikan dan senapan untuk menjatuhkan drone-drone yang terbang rendah.
Namun, penerapan pendekatan berteknologi rendah ini sulit dilakukan secara luas dengan tingkat keandalan yang konsisten.
Apakah AS Memiliki Drone Serupa?
Selama bertahun-tahun, militer Amerika Serikat telah melakukan investasi besar pada sistem drone besar dan canggih seperti drone Predator. Namun, negara tersebut menghadapi tantangan dalam memproduksi drone murah yang dapat digunakan sekali pakai, yang banyak diterapkan dalam konflik di Ukraina.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kementerian Pertahanan AS berusaha meningkatkan produksi drone murah dengan meluncurkan program kontrak senilai USD 1,1 miliar untuk dua tahun ke depan yang akan dilaksanakan dalam empat tahap. Sebanyak 25 perusahaan, termasuk beberapa dari Ukraina, bersaing untuk mendapatkan bagian dari pendanaan awal sebesar USD 150 juta.
Perusahaan yang terpilih diwajibkan untuk dapat mengirimkan drone dalam waktu beberapa bulan, bukan tahun. Para pemimpin AS juga mengumumkan bahwa mereka telah merekayasa ulang drone Shahed Iran yang berhasil ditangkap. Versi modifikasi dari drone tersebut kini digunakan dalam konflik yang sedang berlangsung. Drone versi AS ini dinamakan LUCAS, yang merupakan singkatan dari Low-cost Unmanned Combat Attack System, dan diproduksi oleh perusahaan SpektreWorks yang berbasis di Arizona. Perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar melalui email.
Berapa Lama Cadangan Rudal Pencegat Milik AS Dapat Bertahan?
Sejumlah analis memperkirakan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya mungkin akan menghadapi kekurangan rudal pencegat untuk melindungi wilayah mereka dari serangan rudal dan drone yang berasal dari Iran. Prediksi ini muncul seiring dengan kenyataan bahwa selama ini, AS dan sekutunya belum mampu menyediakan cukup rudal pencegat untuk Ukraina guna menghadang seluruh serangan dari Rusia.
Menurut laporan yang dirilis oleh Center for Strategic and International Studies pada bulan Desember, analisis terhadap data publik mengenai pengadaan militer menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, AS hanya membeli rudal pencegat dalam jumlah yang relatif kecil, yakni ratusan unit, bukan ribuan. Hal ini mencerminkan adanya ketidakcocokan antara kebutuhan yang muncul dalam konflik berskala besar dengan jumlah persediaan yang ada.
Meskipun Kementerian Pertahanan AS telah menandatangani kontrak baru untuk meningkatkan produksi, pabrik-pabrik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memenuhi permintaan tersebut. Pada Rabu (4/3), Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengakui adanya kekhawatiran terkait jumlah persediaan senjata tersebut, namun ia menegaskan bahwa militer AS masih memiliki cukup amunisi presisi.
"Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk menjalankan tugas yang ada --- baik untuk operasi ofensif maupun defensif," ungkap Caine.
Namun, ia juga menekankan bahwa sebagai prinsip operasional, pihak militer tidak ingin membahas jumlah persediaan secara terbuka.
"Saya ingin menyampaikan kepada rekan-rekan semua bahwa sebagai praktik umum, saya tidak ingin membahas jumlahnya," tambahnya.