CAPD Adalah Metode Cuci Darah Lewat Perut, Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah
Penjasan mengenai CAPD, metode alternatif untuk cuci darah di rumah.
CAPD adalah singkatan dari Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis. Ini adalah metode cuci darah yang dilakukan lewat perut. Bagi pengidap gagal ginjal pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah hemodialisis atau cuci darah.
Proses cuci darah biasanya dilakukan di rumah sakit dengan memasangkan selang ke tubuh pasien. Kini, telah ditemukan metode alternatif yang dapat digunakan dalam proses cuci darah, yaitu CAPD.
CAPD berbeda dengan proses cuci darah pada umumnya. Metode ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut (peritoneum) yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah sebagai filter alami.
Lalu, bagaimana proses dan cara kerja CAPD itu sendiri? serta bagaimana kelebihan dan kekurangan dari metode alternatif ini? Simak ulasannya dilansir dari laman Alodokter dan berbagai sumber, Senin (4/7/2022):
Metode Cuci Darah CAPD
Seseorang yang mengidap penyakit gagal ginjal biasanya harus rutin menjalani proses cuci darah. Hal ini dikarenakan pada pengidap penyakit tersebut organ ginjal mereka tidak dapat melakukan fungsinya dengan normal.
Akibatnya, zat-zat sisa metabolisme akan menumpuk dan menimbulkan efek berbahaya bagi tubuh. Maka dari itu, pengidap gagal ginjal harus melakukan cuci darah untuk menyaring zat-zat sisa metabolisme dalam darah.
Biasanya, orang yang melakukan cuci darah harus datang ke rumah sakit. Dokter biasanya akan menghubungkan selang yang terpasang di tubuh pasien ke mesin cuci darah. Kemudian, pasien akan menunggu sekitar 4 sampai 5 jam.
Namun, kini telah ditemukan metode alternatif yang dapat digunakan dalam proses cuci darah, yaitu CAPD. Metode ini bahkan bisa dilakukan sendiri di rumah pasien masing-masing.
Persiapan CAPD
Proses cuci darah di rumah sakit ©2019 Merdeka.com/Arie Basuki
Proses CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis) dilakukan dengan memasang selang pada rongga perut pengidap gagal ginjal. Biasanya pasien diharuskan untuk menjalani operasi pemasangan kateter terlebih dahulu.
Kateter ini nantinya berguna sebagai tempat keluar-masuknya cairan dialisis, yaitu cairan steril untuk menarik zat-zat sisa metabolisme, mineral, elektrolit, dan air dari tubuh.
Dokter biasanya akan membuat sayatan kecil di samping bawah pusar. Dari situ biasanya dimasukkan kateter hingga mencapai rongga perut (peritoneum).
Proses CAPD di Rumah
Kateter yang sudah dipasang akan dibiarkan ada di dalam perut agar pasien bisa melakukan proses dialisis (cuci darah) sendiri. Pasien bahkan bisa melakukan proses dialisis dengan metode CAPD sendiri di rumah.
Setiap kali hendak melakukan cuci darah, pasien gagal ginjal harus menghubungkan kantong berisi cairan dialisat baru ke kateter dan menunggu sampai cairan tersebut mengisi rongga perutnya.
Cairan dialisat sendiri merupakan cairan yang memiliki komposisi kimia menyerupai cairan tubuh normal. Cairan dialisat kemudian dibiarkan di dalam rongga perut selama beberapa jam.
Ketika darah melewati pembuluh darah di peritoneum, zat-zat sisa dari darah tersebut akan diserap oleh cairan dialisat ini. Cairan dialisat yang sudah tercampur dengan zat-zat sisa akan dialirkan keluar melalui perut ke kantong lain yang kosong. Proses ini harus dilakukan oleh pasien sekitar 4 kali per hari. Masing-masing proses pertukaran cairan biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Keunggulan Metode CAPD
1. Pasien Tidak Harus Bolak-balik ke Rumah Sakit
Pasien yang menjalani hemodialisis biasanya perlu berkunjung minimal tiga kali ke rumah sakit atau klinik setiap minggunya. Masing-masing kunjungan membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk proses hemodialisis.
Namun, dengan alternatif ini pasien dapat melakukan cuci darah sendiri di rumah tanpa membutuhkan mesin hemodialisis. Maka pasien tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit atau klinik untuk cuci darah.
2. Peralatan untuk CAPD Mudah Dibawa
Proses CAPD juga bisa dilakukan di mana saja. Hal ini dikarenakan peralatan yang diperlukan untuk melakukan CAPD portable atau mudah dibawa ke mana saja.
Peralatan CAPD biasanya hanya berupa kantong cairan dialisat, klip, dan kateter untuk mengalirkan cairan dialisat ke dalam rongga perut.
3. Larangan atau Batasan Makanan Pengguna CAPD Lebih Sedikit
Karena proses cuci darah dengan CAPD dilakukan setiap hari, pengguna CAPD umumnya akan memiliki risiko lebih kecil mengalami akumulasi atau penumpukan kalium, natrium, dan cairan.
Hal ini menyebabkan pengguna CAPD bisa lebih fleksibel dalam mengatur asupan makanan dan minuman dibandingkan pengguna hemodialisis.
4. Baik untuk Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Dengan CAPD, pasien gagal ginjal dapat mengontrol jumlah cairan di dalam tubuh dengan lebih baik. Hal ini akan mengurangi beban kerja jantung dan tekanan di dalam pembuluh darah.
Risiko CAPD
Selain memiliki beragam manfaat, metode CAPD tetap memiliki risiko yang juga harus diwaspadai oleh pasien, seperti:
1. Kemungkinan Infeksi
Risiko terjadinya infeksi pada CAPD cukup tinggi karena pengguna perlu membuka-tutup kateter dan melakukan pergantian cairan dialisat secara rutin.
Maka dari itu, jik area kulit di sekitar kateter tidak dijaga kebersihannya makan rentan dihuni oleh bakteri.
Ketika masuk, bakteri dapat menginfeksi peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Gejalanya berupa demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, dan cairan dialisat berwarna keruh.
2. Hernia
Pengguna CAPD akan menahan cairan dialisat di dalam rongga perut untuk waktu yang lama. Kondisi ini akan memberikan tekanan pada dinding perut.
Tekanan yang terus-menerus akan menyebabkan kelemahan pada dinding perut. Akibatnya, organ di dalam perut, seperti usus, dapat menonjol keluar dan membentuk hernia.
3. Membuat Berat Badan Naik
Cairan dialisat mengandung gula yang disebut dekstrosa. Terserapnya cairan ini dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh kelebihan kalori dan mengalami peningkatan berat badan.
Tentu saja, baik proses hemodialisis atau CAPD keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, pasien kini bisa memilih dan mempertimbangkan metode mana yang paling menguntungkan.