Begini Kehidupan Malam di Arab Saudi, Ada Cewek Berpakaian 'Terbuka'
Apalagi semenjak peraturan baru pemerintah. Kini mulai banyak para wanita dengan pakaian terbuka di Arab Saudi. Terutama saat ramainya suasana kehidupan malam di pusat perbelanjaan.
Tak sedikit orang yang menyangka bahwa seluruh penduduk Arab Saudi adalah pemeluk agama Islam. Kendati demikian, kehidupan beragama yang pluralisme atau beragam keyakinan juga ada di sana. Banyak non-muslim dan muslim yang hidup berdampingan.
Apalagi semenjak peraturan baru pemerintah. Kini mulai banyak para wanita dengan pakaian terbuka di Arab Saudi. Terutama saat ramainya suasana kehidupan malam di pusat perbelanjaan.
Simak ulasan selengkapnya kondisi kehidupan malam di Arab Saudi berikut ini, seperti dihimpun dari kanal YouTube Alman Mulyana, Rabu (13/4).
Mulai Banyak Wanita Tak Berhijab
kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com
Perjalanan malam Alman Mulyana untuk memperkenalkan kepada sang istri mengenai kehidupan malam di Arab Saudi. Mereka ditemani kedua rekannya sesama WNI.
Mereka dibuat terkejut karena melihat sudah mulai banyak wanita yang tak mengenakan hijab dan abaya (sejenis gaun atau jubah dari Timur Tengah).
"Sekarang saya mau mengenalkan dunia malam di Arab ke istri saya. Mungkin istri saya berpikir bahwa di Arab itu semuanya muslim. Padahal di Jeddah khususnya, itu banyak banget non muslim. Banyak orang yang enggak pakai hijab, bahkan enggak pakai abaya. Sekarang pemerintah Arab Saudi membebaskan untuk silakan pakai abaya atau tidak," kata Alman.
Aturan Lebih Bebas
kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com
Meski tak lagi mengenakan pakaian tertutup, para wanita di Arab Saudi sekarang tetap bisa merasa aman. Hal ini dinilai begitu berbeda dengan kondisi Arab sebelumnya.
Bahkan gaun atau abaya kini mulai bervariasi mengikuti zaman. Yang dulunya hanya diperkenalkan dengan warna hitam, kini sudah ada beragama warna dan hiasan demi memanjakan keinginan para wanita di sana.
"Tanpa kerudung tanpa abaya, sudah bebas. Kalau dulu tidak sebebas sekarang. Kalau sekarang memang sudah ada aturan, walau perempuan enggak pakai abaya enggak takut. Mulai tahun sekarang ini abaya juga sekarang muai berwarna, kalau dulu hitam saja," terang Alman.
Beda dengan Kehidupan Malam di Kota Suci
Toko Kabayan, kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com
Terdapat salah satu toko terbesar di Arab yang kerap dikerumuni para non muslim. Bahkan disebutkan bahwa peraturan di Arab sudah mulai fleksibel. Sementara dua kota suci Mekkah dan Madinah masih menggenggam erat aturan wanita untuk menutup aurat. Meski seorang non muslim sekali pun.
"Supermarket Kabayan. Kalau di kita nama film. Di sini banyak banget non muslim. Oh perempuan bebas di sini. Jadi seperti ini kehidupan malam di Arab. Berbeda dengan di Mekkah, Madinah. Di sana masih dibatasi, kalau di sini enggak," ucap Alman.
Hingga seorang rekan dari Alman turut mengaku heran, kehidupan malam di Arab yang lebih bebas. Semenjak ia keluar dari kota Mekkah.
"Dulu saya mengiranya sebelum berangkat ke sini, kirain di Arab itu Islam semua. Karena kiblatnya Islam di sekitar sini. Pas keluar dari Mekkah, baru tahu ternyata ada kehidupan seperti ini," tukas rekannya.
Mata Lelaki Tak Lagi Jelalatan
kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com
Seiring terbiasanya dengan aturan baru dari pemerintah tersebut, menurut Alman para pria di sana juga mulai menyesuaikan diri.
"Yang saya perhatiin, sekarang itu laki-laki di sini dah mulai terbiasa. Enggak terlalu jelalatan. Kalau dulu kan semua perempuan tertutup. Tapi kalau di dua tanah suci (Mekkah dan Madinah), masih terjaga," papar Alman.
Bahkan sejumlah pria juga memilih untuk mengenakan celana pendek saat nongkrong. Beda dengan sebelumnya.
"Cowok juga mulai pakai celana pendek," tukas istrinya.
"Tapi sebebasnya di sini, kalau sedang waktu salat. Maka seluruh toko akan tutup. Kecuali apotik, karena khawatir ada yang mendadak sakit," ujar Alman.
(mdk/kur)