Bawa Bencana, Lumpur Lapindo Ternyata juga Ada Gunanya & Bawa Rezeki
Di balik bencana yang membawa dampak terhadap ribuan hektar tanah warga itu, masih ada kebaikan. Warga mampu meraup rezeki.
Bencana lumpur lapindo pada Mei 2006 silam meninggalkan memori kelam bagi para korban dan seluruh masyarakat di tanah air. Banyak kerugian besar yang harus ditanggung.
Namun, di balik bencana yang membawa dampak terhadap ribuan hektar tanah warga itu, masih ada kebaikan. Warga mampu meraup rezeki.
Hal ini pun disambut hangat oleh sejumlah warga setempat. Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dilansir dari kanal YouTube Trans TV Official, Rabu (23/2).
Lumpur Lapindo Jadi Rezeki
Bicara soal lumpur lapindo, sekilas yang terbayang ialah tentang bencana dan seluruh dampak buruk sebagai akibatnya. Namun, di balik bencana yang mengadang, masyarakat setempat masih dapat menimba keuntungan dari hal tersebut.
Humas PT Lapindo Brantas Diaz menuturkan, aliran lumpur lapindo tersebut bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata hingga beton. Caranya tak lain yakni mengolahnya dengan berbagai campuran.
YouTube Trans TV Official ©2022 Merdeka.com
"Direkomendasi bahwa lumpur itu bisa untuk membuat batu bata, paving, kemudian untuk beton," terangnya, dikutip dari video.
Lewati Berbagai Percobaan
Selayaknya membuat berbagai bahan material, lumpur lapindo tersebut telah diujicoba menggunakan sejumlah campuran. Tak lain, hal itu bertujuan untuk mendapatkan cetakan dan perpaduan bahan baku yang tepat.
Pencetus sekaligus penggerak ide usaha batu bata Zaenul Arifin menambahkan, sebelumnya ia telah melakukan percobaan untuk mendapatkan kualitas batu bata yang paling baik.
Setelah melalui hal itu, diperoleh percampuran yang tepat dengan kadar berimbang antara lumpur lapindo dan pasir.
"Itu semua sempat saya coba ya. Ternyata yang paling bagus itu 50 plus 50, itu yang paling bagus," ungkapnya.
Butuh Tenaga Ekstra
YouTube Trans TV Official ©2022 Merdeka.com
Kendati mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar, namun hal ini pun masih harus dikaji secara lebih lanjut. Pembuat batu bata Abdul Rochim mengatakan, batu bata hasil lumpur lapindo disebutnya cukup memakan waktu.
Di saat batu bata pada umumnya cukup menghabiskan waktu dua hari, namun batu bata yang kali ini justru harus membutuhkan 10 hari masa pengeringan. Sekalipun demikian, ada secercah harapan baru bagi masyarakat lokal yang terdampak.
"Kalau lumpur Lapindo itu lebih lembek ya, terlalu lembek. Kalau biasanya dua hari saja sudah kering ya, ini bisa sampai tujuh atau sepuluh hari," jelasnya.