LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TRAVEL

Tradisi Nguras Enceh Makam Raja Imogiri, Gentong Kerajaan Thailand hingga Turki

Bukti kejayaan Kerajaan Mataram dapat dilihat dari peninggalan artefaknya yang bisa dilihat hingga saat ini. Salah satunya dalam ritual nguras enceh di kompleks Makam Raja Imogiri. Keberadaan gentong lintas kerajaan ini menjadi wujud perdamaian yang dibentuk oleh Sultan Agung semasa ia bertakhta.

2021-08-04 12:15:00
picture first
Advertisement

Masa kejayaan kerajaan Mataram tak pernah terlupakan. Berkat Sultan Agung, Mataram berkembang pesat menjadi kerajaan besar di Nusantara. Titisan sang raja meninggalkan berbagai kebudayaan dan ritual yang tumbuh di Keraton Kesultanan Yogyakarta. Salah satunya tradisi Nguras Enceh yang dilaksanakan di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Desa Girirejo, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sini terdapat 4 gentong warisan raja ketiga Mataram ratusan tahun silam.

Nguras Enceh dalam bahasa Indonesia berarti menguras gentong atau tempayan. Keempat gentong tersebut merupakan buah tangan hasil lawatan Sultan Agung ke kerajaan tetangga. Masing-masing diberi nama Kyai Danumaya dari Aceh, Nyai Danumurti dari Palembang, Nyai Siyem dari Kerajaan Siam, Thailand, dan Kyai Mendung dari Kerajaan Ustmaniyah atau Turki.

Selain disakralkan, keberadaan enceh juga menjadi bukti kedekatan Sultan Agung dengan kerajaan sahabat. Kala itu Sultan Agung bersilaturahmi dan bertukar pengalaman antar kerajaan.

Advertisement

©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini

Setelah Kesultanan Mataram berhasil memenangkan peperangan dengan Kesultanan Aceh, Kesultanan Palembang, Kesultanan Ustmaniyah, dan Kerajaan Siam Thailand. Gentong dari lintas kerajaan ini menjadi simbol perdamaian dan persahabatan. Saat di keraton Mataram, gentong tersebut digunakan Sultan Agung dan para raja sesudahnya sebagai tempat air wudhu.

Advertisement

Kini gentong-gentong peninggalan Sultan Agung diletakkan pada kiri dan kanan pintu masuk di Makam Raja Mataram. Persis di depan bangsal Pakubuwana dan Hamengkubuwana yang mengapit Makam Sultan Agung. Tiap tahunnya masyarakat berondong-bondong untuk mengikuti ritual ini. Air lama yang berada di dalam gentong akan dikosongkan, diganti dengan air baru.


©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini


Setelah doa dan tahlilan para Abdi Dalem akan mengisi air ke dalam masing-masing gentong. Pengisian air baru ini sengaja dilebihkan, agar para masyarakat bisa mendapatkan luapan gentong. Mereka menganggap air kurasan gentong ini suci dan punya manfaat tersendiri. Para masyarkat juga berbondong-bondong membawa sesaji untuk persembahan di kompleks pemakaman.

Ritual nguras enceh dilaksanakan tiap tahun pada hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon bulan Sura penanggalan Jawa. Sebelum nguras enceh dilaksanakan, telah berlangsung kirab gayung dari tempurung kelapa. Dimulai dari Kantor Kecamatan Imogiri menuju Kompleks Makam Raja Mataram. Kirab dan nguras Enceh selalu melibatkan para Abdi Dalem keraton dan warga.


©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini


Kompleks Makam Raja Mataram terbagi menjadi dua tempat yang bersemayam Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Yakni Pakubuwana dan Hamengkubuwana. Tiap tahunnya Abdi Dalem dari masing-masing keraton melangsungkan ritual nguras enceh. Abdi Dalem golongan atas yang dijuluki Bupati pada kedua keraton menjadi penanggung jawab acara.

Dalam prosesi, Abdi Dalem Keraton Surakarta memakai baju setelan putih. Pihaknya melakukan ritual di kompleks pemakaman sebelah kiri yang dikhususkan para Raja Keraton Pakubuwana. Sedangkan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta memakai setelan baju lurik biru laut. Mereka melangsungkan ritual di kanan makam Sultan Agung yakni bangsal para Raja Hamengkubuwana.

©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini

Masyarakat begitu antusias mengikuti ritual nguras enceh. Posisinya yang berada di atas bukit dengan ketinggian lebih dari 150 meter. Mereka rela meniti ratusan anak tangga menuju kompleks pemakaman.

Hingga kini ritual nguras enceh masih dilakukan di Yogyakarta. Makna membersihkan diri dan gotong royong tertanam selama prosesi ritual. Gentong yang terbuat dari tanah liat tersebut sampai saat ini juga masih terawat dengan baik.

(mdk/Ibr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.