Mengintip Proses Pengolahan Ikan Asin di Muara Angke
Menyantap ikan asin dengan sambal terasi dan nasi hangat adalah kenikmatan tersendiri. Tetapi jauh sebelum ikan asin hadir di atas piring, terdapat proses yang cukup panjang.
Pasar ikan dan pelabuhan nelayan terbesar di Jakarta Utara, Muara Angke tak pernah sepi. Hilir mudik kapal nelayannya pun sudah tak terhitung lagi. Tak jauh dari pelabuhan terdapat Kampung Nelayan Muara Angke. Berada di sudut kota ibu Kota Indonesia, kampung ini menjadi salah satu pemasok ikan asin terbesar di Jakarta.
Bau amis dan anyir mulai menyergap saat mulai masuk ke tempat pengolahan ikan asin, Kampung Nelayan Muara Angke. Sejauh mata memandang, ribuan ikan dijemur di tempat ini. Para pekerja pun terlihat asyik mengolah ikan yang sedang terpapar sinar matahari ini.
Beberapa pekerja terlihat sibuk menyortir jenis ikan, ada juga yang membolak-balikkan ikan supaya keringnya merata. Beberapa pekerja lainnya membersihkan ikan dari kotoran. Setiap orang di tempat pengolah ikan menjalankan perannya masing-masing.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Menyantap ikan asin dengan sambal terasi dan nasi hangat adalah kenikmatan tersendiri. Tetapi jauh sebelum ikan asin hadir di atas piring, terdapat proses yang cukup panjang.
Proses pembuatan ikan asin setidaknya membutuhkan waktu hingga tiga hari, mulai dari penggaraman hingga penjemuran. Mulanya, ikan yang baru tiba di pelabuhan ditimbang dan di lelang pada pihak pengolah. Selanjutnya di bawa ke proses penggaraman.
Ikan pun dikelompokkan menjadi jenis dan ukuran. Semakin besar ukuran ikan tentu membutuhkan waktu yang lebih lama saat proses penggaraman.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Setelah dirasa cukup, ikan yang sudah melalui proses penggaraman lalu dijemur. Alat penjemuran pun tradisional mengandalkan bantuan sinar matahari. Anyaman bambu pun menjadi alas ikan-ikan yang sedang dijemur.
Beberapa kali para pekerja membolak-balik ikan, agar keringnya menyeluruh. Bau amis yang menyengat sudah menjadi makanan sehari-hari. Matahari pun seolah menjadi teman setia mereka.
Meski teriknya menyilaukan, namun mereka tetap berharap harinya cerah, mataharinya terik. Pasalnya, jika hujan turun proses pengolahan ikan akan membutuhkan waktu yang lebih lama.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Setelah dijemur, ikan dipindahkan untuk dibersihkan lalu dikemas. Ikan asin tersebut dijual dan dipasarkan di kota Bandung, Serang, Garut sampai Lampung. Dalam sehari pekerja bisa mengolah ikan asin hampir mencapai tiga sampai lima ton dengan bahan baku 10 ton garam yang mampu bertahan selama 15 hari.
Saat kemarau mereka mampu memproduksi satu ton per hari. Namun saat musim hujan, produksi ikan asin menurun. Mereka hanya mampu memproduksi 700 kilogram dalam tiga hari.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Berbagai jenis ikan asin bisa ditemui di sini, mulai dari ikan jambal, tongkol, layang, teri hingga cumi. Pengunjung bisa langsung membeli dengan varian harga Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram.
Sebagai penghasil ikan asin terbesar di Jakarta, sentra industri ikan asin Muara Angke memiliki puluhan hingga ratusan pengolahan ikan asin dari skala kecil, menengah hingga besar. Saat pandemi Covid-19 melanda, jumlah produksi ikan asin stabil dan tidak berkurang.
(mdk/Tys)