LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TRAVEL

Kerajinan Panah Mantan Atlet PON, Melesat ke Belanda hingga Amerika

Eddy Roostopo tak bisa begitu saja meninggalkan panah selepas jadi pemenang PON. Kini ia menjadi seorang pengrajin panahan yang juga sukses melesat hingga ke mancanegara. Tak mudah membuat panah, tak sesederhana dari kayu dan tali untuk melontarkan anak panah.

2021-08-24 19:00:00
picture first
Advertisement

Panah telah menjadi senjata berperang jauh sebelum ditemukannya senapan. Para pejuang kerajaan di Indonesia juga turut menggunakan busur panah sebagai senjata utama. Kini panah menjadi salah satu cabang olahraga hingga hobi yang dapat dipraktikkan oleh siapa saja. Banyak orang mampu membuat panah tradisional. Namun yang melegenda ialah Eddy Roostopo. Sang juara Pekan Olahraga Nasional (PON) selama dua periode

Eddy Roostopo yang kerap dipanggil Popop telah berhasil meraih 1 perak dan 1 perunggu dalam PON X tahun 1981. Setelahnya, pada tahun 1985 ia berhasil menyabet 2 medali emasi pada PON XI di Jakarta. Karir olahraga pemanah membuatnya tak bisa lepas begitu saja dari dunia panah. Kini ia menjadi seorang pengrajin senjata panah ternama di kawasan Sriwedari, Solo.

Tak Cuma handal di arena pertandingan, kerajinannya juga membuahkan hasil yang tak disangka. Kini panah tradisional buatan Popop banyak dipesan oleh negara mancanegara seperti Belanda, Hungaria, Perancis, Malaysia, Jepang, dan Amerika

Advertisement

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Eddy Roostopo mulai menekuni kerajinan busur panah pada tahun 1977. Di usia senjanya, ia masih memproduksi berbagai jenis dan ukuran panah tradisional. Benar, panah buatan Popop merupakan jenis panah tradisional yang terbuat dari kayu. Sama persis senjata Jemparingan yang digunakan kerajaan Mataram kuno. Karenanya, bukan perkara mudah untuk membuat satu set senjata panah.

Advertisement

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Kayu dan bambu menjadi bahan utama untuk membuat busur panah dan anak panah. Sisanya menggunakan tali khusus sebagai pelontar anak panah. Namun bukanlah kayu sembarangan yang digunakan. Jenisnya ialah kayu sonokeling, sawo, tekik, dan jati. Kayu tersebut memiliki karakter yang keras namun tidak mudah patah. Berbeda dengan kayu jati yang semaksimalnya ia hindari, karena mempunyai sifat keras namun mudah patah.

Begitupula kayu bambu yang digunankan sebagai tumpuan tali pelontar. Sifatnya harus keras dan ulet. Popop hanya menggunaan bambu jenis petung yang telah berusia 8 tahun. Namun kini untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan. Pasalnya, bambu dengan ruas panjang semakin sulit ditemukan.
Ukuran panjang ruas bambunya harus disesuaikan dengan tinggi sang atlet. Seorang atlet dengan tinggi 168 cm harus menggunakan ruas bambu yang panjangnya 64 cm di kedua tumpuan busur panah.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Tidak cukup sehari jadi, setidaknya untuk membuat satu buah busur dan anak panah memakan waktu hingga 3 bulan lamanya. Mengolah kayu, bambu agar mempunyai komposisi yang pas menjadi tantangan utama Popop dan karyawannya.

Kayu akan melalui proses pengeringan, oven, pengukiran, penghalusan. Hingga merangkainya menjadi satu dengan tali khusus, yang harus ia datangkan dari luar negeri.

Begitupula anak panah yang harus diperhitungkan betuk dan ukurannya agar presisi. Tidak begitu berat ataupun tidak begitu ringan. Hal itu akan membuat anak panah mampu melesat tepat sasaran.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Eddy Roostopo juga menjadi jajaran pimpinan dari komunitas Jemparingan Mataram. Satu set senjata panah berisi satu busur panah dan 12 anak panah. Rata-rata dijual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Semuanya tergantung hasil akhir, bahan, dan spesifikasi panah.

Tak hanya orang tua, kalangan muda kini banyak yang memiliki hobi memanah. Kepopulerannya juga berkat Presiden Joko Widodo yang pernah mengikuti lomba memanah di Bogor pada tahun 2017 silam. Anak-anak juga tak ketinggalan mencoba sensasi memanah. Mereka berlatih sedini mungkin untuk menjadi atlet panah atau menjadikannya sebagai hobi.

(mdk/Ibr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.