LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TRAVEL

Hijrah Penjual Tempe Jadi Pengrajin Miniatur Kapal dalam Botol di Klaten

Aneka hiasan miniatur kapal dalam botol berjajar menarik. Pembuatnya dulu ialah seorang penjual tempe. Ia berhijrah dan menggeluti kerajinan miniatur kapal dalam botol. Tak mudah, butuh ketelitian dan kesabaran ekstra untuk merakit kapal dalam botol.

2021-06-17 12:30:00
picture first
Advertisement

Siapa yang tak tahu gantungan kunci botol kaca dengan miniatur kapal di dalamnya? Gantungan itu sangat familiar dan mudah dijumpai. Salah satu pengrajinnya ialah Agung Santoso. Aneka bentuk, warna, dan ukuran miniatur kapal bersarang apik di dalam botol kaca yang ia produksi di rumah Dukuh Ngaglik, Desa Klepu, Ceper, Klaten

Siapa sangka, sebelumnya Agung bukanlah seorang pengrajin atau seniman. Secara otodidak ia berhijrah, banting setir dari seorang penjual tempe menjadi pengrajin miniatur kapal dalam botol. Bermula dari faktor perekonomian yang jadi tuntutan. Bergelut dengan tempe, tahu, dan kerupuk tiap hari cenderung membuatnya jenuh. Jati dirinya muncul ketika menemukan ide untuk membuat kerajinan miniatur kapal.

Uniknya, kapal layar ini berada di dalam botol mungil. Tentu bukanlah perkara mudah bagi seorang pemula. Kesabaran dan ketelitiannya selama bertahun-tahun akhirnya berbuah manis. Tepatnya 10 tahun silam Agung mulai menggeluti kerajinan kapal dalam botol. Idenya muncul saat berada di Kota Yogyakarta. Hingga ia mencoba membuat miniatur kapal dalam botol mulai dari nol.

Advertisement

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Minim pengetahuan, justru membuat Agung langsung mempraktikkan membuat miniatur kapal. Bahan seadanya dia manfaatkan mulai dari kayu bekas hingga limbah kain. Imajinasinya semakin liar saat bersentuhan langsung dengan material pembuat kapal. Ketekunan membuatnya semakin mahir membuat kapal mini di dalam botol.

Advertisement

Tak hanya memproduksi, dia juga memasarkan di tempat wisata Malioboro, Yogyakarta. Dari sana market penjualannya mulai berkembang. Hingga Ia punya relasi para pengepul yang berminat menjual miniatur kapalnya hingga ke berbagai kota di Indonesia.

Pendapatannya kini meningkat lebih jauh dibanding berjualan tempe. Kepiawaian membuat miniatur kapal selalu ia sempurnakan. Agar tampilan kerajinannya lebih menarik dan mengikuti perkembangan zaman.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Kerajinan miniatur kapal dalam botol bukanlah hal mudah bagi orang awam. Pasalnya, perbandingan skala kapal asli sangat jauh. Kapal yang begitu besar dijadikan miniatur dalam ukuran yang mini. Menyusunnya harus dilakukan di dalam botol.

Bayangkan, part seperti lambung kapal, helaian layar, tiang hingga tali dimasukkan melalui mulut botol. Lubang botol umumnya hanya berukuran sepertiga dari diameter botol. Butuh alat dan skill khusus untuk merakit kapal hingga terbentuk sempurna.

Hanya capit kayu, lidi hingga bekas jeruji yang mampu melintasi mulut botol yang sempit. Satu persatu mulai dari lambung kapal masuk ke dalam tubuh botol. Disusul dengan bagian lain dan direkatkan dengan lem secara perlahan.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Agung mendapatkan bahan pembuat kapalnya sebagian besar dari limbah. Kayu pada kapal dia dapatkan dari pabrik mebel di dekat rumahnya. Kayu yang digunakan adalah jenis Mahoni dan Sonokeling .Sedangkan botol kaca dari limbah obat, hingga botol minuman bekas yang dipasok dari Cirebon.

Sedangkan layar dan tali, Agung memanfaatkan tenaga ibu rumah tangga sekitar rumahnya. Hanya Agung dan keluarganya yang merakit miniatur kapal dalam botol. Baginya adalah sebuah skil rahasia, hanya keluarganya yang tahu agar miniatur kapal menjadi indah.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Tak disangka, hingga saat ini miniatur kapal dalam botol mampu terjual ke berbagai kota. Bermula dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Makassar hingga Bali. Bahkan mampu menembus destinasi Wisata Nasional di Danau Toba hingga Pulau Komodo.

Tak hanya itu, berkat para pengepulnya produk Agung bisa dikenal dan dijual hingga Amerika, Bahama, Thailand, Jepang dan Turki turut memborong kerajinannya untuk dijual kembali di negaranya masing-masing.

Ukurannya beragam mulai dari 4 cm hingga 7 cm. Produksi kerajinannya saat ini hanya berfokus pada pemenuhan permintaan pengepul. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 1.5 juta. Semua tergantung pada ukuran dan faktor kerumitan saat merangkainya.

(mdk/Ibr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.