Cantik Menawan dalam Balutan Rimpu, Cadar Tradisional dari Bima
Penampilan wanita ini memang nampak seperti menggunakan cadar. Namun, busana yang satu ini bukan berasal dari Timur Tengah melainkan dari Tanah Air tepatnya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Cadar tradisional dari Bima ini bernama Rimpu.
Sang mahkota rambut tertutup dengan sarung bercorak indah. Menjulur panjang layaknya jilbab. Mulut dan hidungnya tertutup rapat menyisakan kedua mata indah di wajah. Terlihat anggun dan menawan.
Penampilan wanita ini memang nampak seperti menggunakan cadar. Namun, busana yang satu ini bukan berasal dari Timur Tengah melainkan dari Tanah Air tepatnya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Cadar tradisional dari Bima ini bernama Rimpu.
Layaknya cadar, Rimpu mengandung nilai yang sarat dengan ajaran agama Islam. Yang berfungsi untuk menutup aurat bagi wanita Muslim di daerah Bima dan Dompu. Sebagaimana ajaran Islam yang mengajarkan bahwa setiap perempuan yang sudah akil baliq harus menutup auratnya dihadapan orang yang bukan muhrimnya.
©2021 Merdeka.com/Muhammad Fitrah Ramadhan
Memang nampak seperti hijab, namun penggunaan Rimpu ini sangat sederhana bahkan tak membutuhkan jarum atau peniti saat memakainya. Hanya membutuhkan selembar sarung khas Dompu yaitu sarung nggoli. Tak hanya sebagai penutup aurat saja, Rimpu juga mengetahui status wanita.
Dalam adat dan budaya masyarakat Bima dan Dompu, cara menggunakan rimpu ada dua jenis. Yakni rimpu mpida dan rimpu colo. Rimpu mpida pakaian untuk perempuan yang masih gadis, sedangkan rimpu colo untuk perempuan yang sudah berkeluarga.
©2021 Merdeka.com/Muhammad Fitrah Ramadhan
Bagi wanita yang belum menikah memakai busana Rimpu hanya kelihatan bagian mata dan telapak tangan saja. Sementara bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga memakai busana Rimpu boleh kelihatan wajah.
Perbedaan penggunaan Rimpu ini sebagai penanda kepada masyarakat khususnya kaum Adam tentang status wanita itu. Layaknya sebuah cincin pernikahan yang bisa membedakan apakah wanita tersebut sudah berkeluarga atau masih gadis. Inilah yang unik dari budaya Rimpu.
©2021 Merdeka.com/Muhammad Fitrah Ramadhan
Rimpu tak hanya digunakan sebagai penutup kepala saja, namun juga sebagai bawahan. Cara menggunakannya sangat mudah, layaknya kaum lelaki memakai sarung. Mengikat sarung di pinggang menutupi mata kaki.
Sarung ini merupakan tenunan khas Bima-Dompu. Motifnya beragam, daringgusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkih), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon).
©2021 Merdeka.com/Muhammad Fitrah Ramadhan
Budaya ini telah mengakar sejak ratusan tahun dalam kehidupan masyarakat Dompu. Berkembangsejak masyarakat Bima menerima Islam yang dibawa oleh orang-orang Sumatra. Melalui hubungan antara kerajaan Bima dengan Goa.
Kini, memang jarang ditemukan wanita menggunakan Rimpu dalam kesehariannya. Tergeser dengan perkembangan busana tren saat ini. Meski begitu, penggunaan Rimpu masih dilakukan saat acara-acara tertentu di Bima.
(mdk/Tys)