Tifatul abaikan bocoran Snowden soal Singtel dan satelit Palapa
Tifatul sudah menyimpulkan bahwa bila ada penyadapan berarti manajemen operator tidak terlibat
Menkominfo Tifatul Sembiring mengabaikan laporan dan petunjuk dari mantan kontraktor NSA, Edward Snowden, bahwa peranan Singtel dan satelit dalam aksi penyadapan di Indonesia sangat besar.
Meski berjanji akan memverifikasi laporan operator tersebut, namun Tifatul sudah menyimpulkan bahwa bila ada penyadapan berarti manajemen operator tidak terlibat, dan hanya oknum yang ada di dalamnya.
"Seperti yang pernah saya bilang, terdapat sejumlah titik yang bisa untuk menyadap," kata Menkominfo, Rabu (111/12).
Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Kominfo Gatot S. Dewa Broto, semua operator menyatakan bahwa keamanan jaringan untuk jalur komunikasi RI-1 dan RI-2 sudah siap digunakan dan sesuai dengan SOP pengamanan VVIP.
"Semua operator juga menyatakan bahwa sudah mengevaluasi oursourcing jaringan (kalau ada) serta memperketat Perjanjian Kerjasama," ungkapnya.
Selain itu, tambahnya, semua operator juga menyatakan bahwa sudah memastikan yang berwenang melakukan penyadapan adalah aparat penegak hukum. Menurut Gatot, semua operator menyatakan bahwa sudah memeriksa bahwa tidak ada penyusup gelap penyadapan oleh oknum swasta ilegal," lanjutnya.
Pengamat telekomunikasi dari Universitas Multimedia Heru Sutadi mengatakan laporan operator dan tanggapan Kominfo seperti menafikan apa yang disampaikan Edward Snowden, mantan kontraktor NSA, bahwa ada dua petunjuk penyadapan yang dilakukan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan para Menteri di 2009 lalu, yaitu Singtel dan satelit.
"Dari bocoran Edward Snowden, Singapura selama 15 tahun terakhir ini melakukan penyadapan bersama Australia bukan hanya terhadap Indonesia, tapi juga negara tetangga mereka Malaysia. Dan peran itu dilakukan oleh Singtel yang merupakan operator milik pemerintah Singapura," katanya.
Dalam laporan yang disampaikan The Age, keterlibatan Singtel dikarenakan Singtel dimiliki secara mayoritas oleh Temasek Holding, yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah Singapura dalam hal investasi.
Temasek di Indonesia pernah memiliki Indosat melalui Singapore Technologies Telemedia (STT) sebelum sahamnya kemudian dijual ke Qatar Telecom, serta SingTel yang memiliki 35 persen saham di Telkomsel yang merupakan operator terbesar di Indonesia saat ini.
Dalam bocoran Snowden disebut bahwa Singtel memiliki hubungan yang dekat dengan agen intelijen. Hal itu terlihat dari Wakil Pemerintah Singapura di Singtel, yang merupakan Kepala Layanan Publik singapura, Peter Ong.
Ong sendiri sebelumnya bertugas mengkoordinasikan keamanan nasional dan intelijen di kantor Perdana Menteri Singapura.
Selain Singtel, situs harian The Australian menuliskan bahwa pemerintah Australia juga menyadap satelit Palapa milik Indonesia.
Pihak yang diduga menyadap adalah Australian Signals Directorate (ASD), salah satu direktorat di Kementerian Pertahanan Australia yang bertanggung jawab atas signals intelligence (SIGNIT).
Soal satelit, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan bahwa banyak informasi negara bobol lewat satelit. Hal itu karena satelit yang dipakai adalah satelit sewaan, bukan milik Indonesia sendiri.
"Selama ini kita kebobolan karena satelit yang ada selama ini adalah satelit sewaan, bukan milik kita. Begitu mudahnya kita disadap," ungkap Purnomo.
Soal penyadapan lewat satelit, pengamat telematika Roy Suryo sebelumnya menegaskan bahwa Indosat berada di belakang isu penyadapan yang saat ini mengemuka. Karena itu, Roy yang juga Menteri Pemuda dan Olah Raga ini mendesak Indosat harus bertanggung jawab.(mdk/ega)