Setelah Instagram, Iran akan larang semua jejaring sosial?
Iran kembali tabuh genderang perang lawan sosial media, dan kini korbannya adalah WhatsApp
Tampaknya perang antara Iran dan jejaring sosial akan berlanjut ke tahap baru seiring dengan tercatatnya salah satu jejaring sosial milik Facebook ke dalam daftar hitam negara tersebut.
Setelah memblokir Facebook, Twitter, dan WhatsApp, kini pemerintah Iran kabarnya tengah menimbang-nimbang keberlangsungan Instagram di negara tersebut.
Ini terjadi setelah munculnya gugatan dari perseorangan yang memaksa kementerian komunikasi Iran untuk membatasi akses ke situs berbagi foto milik Mark Zuckerberg itu, Engadget (25/3).
Untuk saat ini belum ada tanda-tanda blokir segera terlaksana, sebab warga di Teheran masih bisa memposting foto selfie di jam makan siang jumat kemarin.
Lalu, apakah Iran akan blokir semua sosial media?
Memang pemblokiran sosial media di Iran terkesan tidak adil, karena pemblokiran ini hanya berlaku untuk rakyat 'biasa'. Para petinggi Iran kabarnya masih mendapat akses penuh ke jejaring sosial.
Sebut saja Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif yang tetap aktif di Twitter, bahkan Presiden Hassan Rouhani dan Pemimpin Syiah Ayatollah Ali Khamenei juga punya akun di Instagram, ABCNews (23/5).
Alasan ancaman terhadap kestabilan negara tetap menjadi bahan pembicaraan utama. Mengingat Iran masih merupakan negara yang konservatif dan tetap mempertahankan adat istiadat yang berlaku.
Bahkan isu terkait agama sempat santer terdengar setelah Iran melarang WhatsApp yang diyakini berhubungan dengan pembelian perusahaan itu oleh Facebook yang notabene di pimpin oleh seorang Yahudi. Sebelumnya Facebook dan Twitter memang lebih dulu diblokir tahun 2009 setelah digunakan untuk memprotes presiden sebelumnya, Mahmoud Ahmadinejad.
(mdk/bbo)