Penduduk Palestina bersyukur dengan adanya Google
Google dikenal sangat sering membantu warga palestina sehari-hari hingga kemerdekaannya.
Meskipun ditentang keras oleh Israel, pengakuan Google untuk Palestina mendapat sambutan positif bagi Palestina. Hal ini nampak dari apa yang dilakukan oleh para penduduk Palestina sesaat setelah Google memasukkan nama Palestina sebagai sebuah negara.
Seperti yang dilansir oleh NPR (14/5), penduduk dikabarkan berterima kasih kepada Google. Bahkan, ada pula yang menyimpan screenshot pengakuan ini dan diunggah kembali ke dunia maya.
"Semua tau tentang hal ini dan mengambil screenshot untuk diunggah kembali ke Facebook. Ada pula yang menuliskan Hore, terima kasih Google," kata Mohammad Kumboz, desainer grafis sekaligus programmer yang sehari-hari tinggal di jalur Gaza.
Menurut pria berusia 22 tahun ini, apa yang dilakukan oleh Google sendiri memang memiliki dampak yang besar bagi bangsanya. Apalagi, Google selama ini sering membantu mereka dalam kegiatan sehari-hari.
"Google sangat berarti bagi kami. Tak ada hari tanpa menggunakan Google," sambutnya.
Kumboz sendiri merupakan satu dari banyak orang yang merasa berutang budi berkat bantuan Google. Lewat dukungan dana sumbangan USD 900 ribu atau setara Rp 8,7 miliar, dirinya berhasil mendirikan sebuah perusahaan teknologi yang digawangi oleh putra-putra bangsa Palestina sendiri.
Sementara itu, di lain pihak Israel sangat geram terhadap apa yang dilakukan oleh Google. Kemenlu Israel pun sempat secara resmi menyampaikan keberatannya melalui sebuah surat.
Dalam surat ini, pihak Kementerian Luar Negeri Israel mengkritisi kebijakan Google yang memasukkan nama Palestina sebagai nama negara dalam layanannya. Sebelumnya, nama tersebut hanyalah Palestine Territories.
"Dengan melakukan hal ini, Google secara langsung mengakui keberadaan negara Palestina," jelas surat ini.
Di lain pihak, dalam sebuah wawancara dengan BBC (3/5), Nathan Tyler, juru bicara Google, mengatakan Google sudah berada pada arah yang tepat.
"Kami mengganti nama Palestinian Territories menjadi Palestina di berbagai layanan. Hal ini dilakukan setelah mengonsultasikannya dengan berbagai sumber dan pihak berwajib karena berurusan dengan penamaan negara," kata Tyler waktu itu.
Bahkan, jika ditelaah, sumber-sumber yang digunakan Google pun bisa dibilang merupakan sumber yang kompeten. Hal ini terlihat dari berbagai sumber yang disebutkan oleh Tyler dalam wawancara tersebut.
"Dalam kasus ini, kami mengikuti inisiatif PBB, Icann (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers), ISO (International Organisation for Standardisation), dan berbagai organisasi internasional lainnya," lanjut Tyler.
(mdk/nvl)