Merger berlarut-larut, AXIS mengaku tak kuat bertahan
AXIS mengaku sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi menghadapi situasi ini.
Berlarut-larutnya proses merger antara PT XL Axiata dan PT AXIS Telekom ternyata membuat Axis makin kembang kempis. Apalagi, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) masih menggantung nasib merger tersebut sampai 28 Maret mendatang.
AXIS mengaku sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi menghadapi situasi yang kian sulit karena terus merugi, apalagi harus menunggu keputusan KPPU sebulan lagi.
Menurut Erik, sebagai operator GSM kelima di Indonesia, sangat sulit bagi AXIS untuk bersaing di tengah persaingan tarif dan layanan yang ketat di industri telekomunikasi tanah air.
Topik pilihan: Merger XL-Axis | Smartphone
“Perang tarif membuat AXIS terus-menerus mengalami kerugian karena hingga saat ini AXIS masih dalam posisi belum meraih keuntungan dalam lima tahun operasinya. Di sisi lain, AXIS tetap harus mengeluarkan belanja modal dan biaya operasional yang cukup tinggi,” keluhnya, Sabtu (1/3).
Menurut dia, kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan bagi operator. Dengan tingkat harga terlalu rendah, tambahnya, sangat sulit bagi pemain baru hanya untuk bertahan hidup. Namun demikian, perseroan tetap berusaha membangun basis pelanggan di tengah situasi sulit.
"Oleh karena itu, merger dengan XL dinilai merupakan solusi terbaik untuk tetap memberikan layanan berkualitas tinggi bagi pelanggan kami," harapnya.
Erik mengungkapkan, merger Axis dan XL akan mendorong industri jadi lebih sehat. "Dengan merger ini, tiga operator besar akan memiliki spektrum yang merata, yang diperlukan untuk memberikan layanan berkualitas baik di seluruh pelosok Indonesia. Kita akan melihat kompetisi yang lebih baik dan lebih sehat pada saat XL mendapatkan akses ke sumber daya spektrum yang sama seperti Telkomsel dan Indosat,” pungkasnya.