Mengapa rambut manusia tak selebat gorila?
4 Teori mungkin bisa menjelaskan lenyapnya rambut lebat dari tubuh manusia
Apakah Anda pernah bertanya mengapa rambut di tubuh manusia sangat pendek? Padahal, jika melihat fakta manusia 'bersaudara' dengan primata, seharusnya tubuh kita penuh dengan rambut lebat bak gorilla. Apakah ada yang salah dengan evolusi kita?
Untuk menjawab pertanyaan itu, ilmuwan dunia sejak puluhan tahun silam telah menelurkan berbagai teori yang bisa menjelaskan mengapa manusia bisa 'telanjang' tanpa rambut seperti saat ini.
Nenek moyang manusia suka berenang
Menurut teori yang pernah populer di tahun 1960an, ilmuwan kelautan Alister Hardy dan pakar hewan, Desmond Morris, menyatakan bila manusia purba awalnya memiliki rambut lebat di sekujur tubuh. Namun, karena manusia saat itu tinggal di sekitar perairan dan banyak menghabiskan waktu berenang, rambut-rambut itu menjadi semakin pendek akibat proses evolusi.
Sayangnya, teori ini dipertanyakan kebenarannya setelah ilmuwan-ilmuwan itu tidak bisa memperlihatkan bukti dari evolusi itu. Demikian juga penemuan fosil tidak memperlihatkan jika manusia kehilangan rambut akibat suka berenang.
Manusia purba kegerahan
Saat teori Alister Hardy tumbang, muncul teori baru yang menyatakan bila rambut lebat manusia hilang saat enek moyang manusia, Homo erectus, hidup padang rumput Afrika sekitar satu juta tahun silam. Karena suhu lingkungan yang cukup panas, Homo erectus berevolusi dengan merontokkan rambut leabt di tubuhnya agar mereka tidak gerah dan kepanasan.
Tetapi, sekali lagi teori ini dianggap tidak masuk akal. Sebab saat ini banyak kera berambut lebat yang masih tinggal di padang rumput Afrika. Selain itu, simpanse, yang memiliki rambut 'lumayan' sedikit tidak tinggal di padang rumput, tetapi hutan hujan yang suhunya dingin.
Hindari kutu
Teori ketiga ini cukup unik. Bagaimana tidak, banyak ilmuwan abad pertengahan yang mengatakan rambut manusia rontok akibat ingin menghindari serangan kutu.
Teori ini sejatinya cukup beralasan. Sebab, tidak hanya mengganggu, kutu bisa menyebarkan penyakit-penyakit berbahaya bagi manusia.
Selain itu, kulit bersih tanpa bulu lebat juga bisa menjadi tanda bila manusia terlihat sehat dan memiliki lebih sedikit parasit di tubuhnya. Ini tentu adalah tanda yang pas bagi manusia purba untuk mencari pasangan.
Kulit telanjang demi komunikasi maksimal
Teori yang terakhir ini yang belakangan paling diperhatikan oleh ilmuwan. Menurut antropolog, Barbara King, kulit polos manusia yang tidak memiliki bulu lebat adalah kanvas sempurna untuk berkomunikasi.
Kulit bersih tanpa bulu membuat manusia bisa mengerti ekspresi wajah seseorang, termasuk perubahan warna wajah. Misalnya, saat seseorang merasa malu, pipinya akan semakin merona, dan karena wajah kita tidak penuh bulu, kita bisa mudah mengerti ekspresi wajah itu.
Manusia memang berbeda dengan primata lain. Mata manusia mempunyai kemampuan membedakan warna yang lebih variatif. Mata kita bisa membedakan warna merah muda seperti warna wajah yang merona. Dan hal itu tidak bisa dilakukan oleh 'kera' lain.
Kesimpulannya, hilangnya rambut lebat dari tubuh kita kemungkinan besar disebabkan oleh evolusi yang menginginkan manusia bisa berkomunikasi maksimal dengan sesama. Bukan hanya lewat kata-kata, tetapi ekspresi wajah dan tubuh.
Sumber: TodayFoundOut dan Gizmodo