Mati suri bisa terpecahkan secara sains (2)
Karbon dioksida ternyata menjadi pemicu mati suri
Dalam kasus mati suri, sains memang belum secara sempurna mengupas tuntas. Namun bagaimana proses mati suri sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Zalika Klemenc-Ketis dan rekan-rekannya menemukan satu-satunya hal yang menyebabkan mengapa seseorang bisa mati suri.
Tim peneliti mempelajari sebanyak 52 pasien serangan jantung yang dirawat di 3 rumah sakit berbeda dalam kondisi kritis. Uniknya, 11 di antaranya mengalami mati suri.
Para peneliti menemukan bahwa saat mengalami serangan jantung, pasien juga mengalami gejolak oleh beberapa gas di dalam darah. Diketahui, satu-satunya gas yang naik hanya pada mereka yang mati suri adalah karbon dioksida.
Awalnya, tim peneliti ragu. Mereka menghimpun data terkait jenis kelamin, usia, agama, waktu yang diperlukan untuk menghidupkan, dan obat yang digunakan perawatan, semuanya tidak berkorelasi nyata dengan perasaan mati suri. Sehingga tim menyimpulkan karbon dioksida penyebabnya.
Hal ini didukung fakta kalau orang yang menghirup terlalu banyak karbon dioksida, atau berada pada ketinggian yang dapat meningkatkan konsentrasi karbon dioksida darah seperti pilot, juga mengalami sensasi seperti mati suri.
Ini penemuan penting dalam pemahaman kita tentang mati suri. Kita telah tau kalau semua orang yang mati suri memiliki konsentrasi karbon dioksida tinggi dalam darahnya. Tidak peduli dia kiai atau ateis, tidak peduli mati karena kecelakaan atau penyakit. Semua sama.
Tapi ada satu masalah. Saat mengalami serangan jantung, semua orang memiliki konsentrasi karbon dioksida yang tinggi di darahnya. Tapi hanya 10 persen saja yang mengalami mati suri.
(Bersambung)
Dikutip dari berbagai sumber (Opposing Views, Techno Buffalo, Journal Critical Care, Science Daily, Plos One)(mdk/ega)