Mantan hacker ini jual perusahaannya pada Google
Bagaimana perjalanan kisahnya? Simak ulasannya
Chester Roh, memulai perjalanannya sebagai seorang entrepreneur di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), sekolah teknik terkenal di Korea. Chester memiliki ketertarikan pada dunia internet dan hacking serta menghabiskan dua tahun mengasah kemampuan hacking-nya. (Ia terlalu banyak melakukan kegiatan hacking hingga sempat ditangkap dan dihukum. Untungnya, insiden itu tidak terlalu berdampak pada karirnya).
Melihat kemampuannya dalam bidang hacking dan ilmu komputer, Chester bergabung dengan Inzen (perusahaan penyedia solusi keamanan yang melayani pemerintah serta perusahaan-perusahaan besar) sebagai co-founder dan CTO pada usia 21 tahun. Lingkup usaha Inzen adalah menganalisa paket data real-time untuk mendeteksi dan mencegah serangan-serangan dunia maya yang berbahaya. Chester memiliki pekerjaan impiannya pada usia 21 tahun; sebuah tempat dimana ia bisa memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan. Chester bergabung dengan Inzen sampai lima tahun, hingga melihat Inzen melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) pada tahun 2002 di Korea.
Xenters adalah perusahaan kedua tempat Chester bergabung, namun kali ini ia menduduki posisi sebagai founderdan pemimpin. Xenters juga menangani isu keamanan dunia maya dan didirikan oleh sekelompok mantan anggota Inzen, termasuk Chester. Perbedaan antara Inzen dan Xenters adalah bahwa Xenters dapat menangkap para hacker pintar yang mencoba menjebol masuk dalam sistem secara lambat dan acak, membuat paket datanya semakin sulit untuk dilacak dan diawasi. Bagaimanapun juga, usaha tersebut tidak berhasil, karena tim Xenters tidak dapat meraih pelanggan yang tepat. Xenters pun ditutup pada tahun 2005.
Chester kemudian mengambil waktu untuk cuti dari pekerjaannya sebagai entrepreneur untuk bekerja di SK Telecom, perusahaan telekomunikasi terbesar di Korea. Di SK Telecom, Chester mendapat kesempatan pertamanya untuk membangun produk bagi pelanggan. Chester diberi kepercayaan untuk membangun sebuah jasa intelijen bernama Adaptive Personalization System, yang menanggapi kebutuhan serta keinginan masing-masing pengguna, hampir mirip dengan Google saat ini. Sistem intelijen yang didesain oleh Chester belum siap untuk dipasarkan dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Kendati demikian, Chester sempat memiliki pengalaman membangun produk bagi para pelanggan, yang pada akhirnya terbukti menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya, berujung pada keberhasilannya memimpin Tatter & Company. Chester mengatakan:
"Saya benar-benar ingin mengubah karir saya, dan karena itulah saya sempat pindah ke SK Telecom. Sepanjang karir saya, saya adalah seorang teknisi keamanan, seorang ahli keamanan internet. Saya ingin mengubah karir saya dengan berpindah ke posisi yang lebih dekat dengan kepentingan pelanggan. Saya ingin melakukan sesuatu di luar kebiasaan saya selama ini."
Setelah pekerjaannya di SK Telecom, pada tahun 2005, Chester menyadari tren blogging di Korea, dan berharap dapat mengimpor platform blogging ke Korea untuk mengikuti tren yang sedang berlangsung. Chester menjelaskan:
"Pemikiran awal saya adalah mengimpor software blogging ke Korea. Karena itu, saya menulis surat ke perusahaan program blogging terbesar di Amerika Serikat pada saat itu, Six Apart, yang membawahi Movable Type."
Six Apart tidak membalas surat dari Chester, namun salah satu temannya yang tahu bahwa ia sedang mencari solusi di pasar Korea, memberinya kontak Tatter & Company, sebuah platform blogging yang dibuat oleh teknisi asal Korea. Menurut Chester:
"Program bloggingnya benar-benar menakjubkan. Saya meneleponnya dan memberitahunya bahwa saya tertarik untuk berbisnis dan bekerja dengannya."
Maka, pada tahun 2006, mereka bersama-sama mendirikan sebuah perusahaan, dengan Chester sebagai pemimpin. Tatter & Company membangun Tattertools, sebuah sarana blogging open source yang mirip dengan WordPress untuk pasar Korea, yang memungkinkan para pengembang pihak ketiga untuk berkolaborasi dan turut mengintegrasikan gagasan mereka ke dalamnya. Tatter & Company bersaing secara ketat dengan Daum dan Naver, yang pada saat itu memiliki 9 juta dan 13 juta pengguna di ranah usaha platform blogging. Namun Chester tidak berjuang berdasarkan angka-angka belaka. Ia mengincar kualitas:
"Saya memiliki keyakinan yang kuat. Pada saat itu, di Korea, blogging bukanlah barang baru. Namun kualitas kontennya masih belum bagus. Dengan pencarian, kami membutuhkan konten yang berkualitas. Tatter & Company menyediakan semua konten yang berkualitas. Jadi, strategi kami sudah jelas. Kami tidak melayani semua blogger, namun kami melayani para pencipta konten yang berkualitas tinggi."
Dimulai pada tahun 2006, Tattertools menyediakan layanan jasa yang memungkinkan blogger memiliki nama domainnya sendiri, desain blognya sendiri, serta data. Kendati kini semua itu terkesan sangat umum, namun untuk tahun 2006, fasilitas semacam itu adalah sesuatu yang baru, ditambah lagi dengan platform blogging lainnya di Korea yang hanya memungkinkan blogger mendaftar dengan sub-domain dan tidak mengijinkan pengguna untuk merubah tampilan. Strategi ini terbukti berhasil. Dari 1.000 pengguna pada awalnya, kini Tatter & Company memiliki lebih dari 10 juta pengunjung unik per bulan.
Pada tahun 2008, Google mengakuisisi Tatter & Company, ketika perusahaan tersebut memiliki lebih dari 200.000 blogger yang menggunakan platformnya. Tatter & Company diyakini sebagai akuisisi pertama Google di Korea. Chester mengingat-ingat lagi masa-masa tersebut dan berkata:
"Semua teknisi kami bersemangat ketika Google mulai menghubungi. Pada tahun 2007 dan 2008, Google itu bagaikan raja internet. Saya merasa, para teknisi kami tidak sabar ingin menyambut tantangan kerja berikutnya. Karena itulah, kami mengambil kesempatan tersebut."
Dengan uang dan pengalaman di tangan, Chester kini adalah salah satu investor yang berinvestasi di usaha-usaha startup lokal Korea. Sejauh ini, ia telah berinvestasi di 15 perusahaan dengan dana sekitar Rp 568 juta hingga Rp 3,4 miliar. Beberapa contoh perusahaan yang berhasil di antaranya seperti Ticket Monster (diakuisisi oleh Living Social) dan Dialoid (diakuisisi oleh Daum). Semangat kewirausahaannya pun belum padam, karena baru-baru ini mendirikan Ablar, perusahaan teknologi mobile yang bertujuan membangun bemacam-macam produk mobile untuk seluruh dunia.
Artikel ini pertama kali muncul di Tech in Asia Indonesia
(mdk/ega)